Showing posts with label animalia. Show all posts
Showing posts with label animalia. Show all posts

Thursday, 22 December 2016

Varanus rudicollis (Roughneck monitor)

A. KLASIFIKASI
Klasifikasi spesies bisa dilihat di bawah ini.
Kingdom    : Animalia
Phylum     : Chordata
Class      : Reptilia
Sub – Class: Lepidosauria
Order      : Squmata
Suborder   : Sauria (Lacertilia)
Family     : Varanidae
Genus      : Varanus
Species    : Varanus rudicollis (Gray, 1845)


B. DESKRIPSI MORFOLOGI, CIRI-CIRI DAN ANATOMI
V.rudicollis memiliki tubuh yang bisa dibilang berkisar dari sedang ke panjang. Ukuran tubuh untuk V.rudicollis dewasa adalah sekitar 90-120 cm. Dengan ukuran terpanjang yang pernah dilaporkan adalah 180 cm. V.rudicollis dapat dengan mudah dikenali melalui sekelompok sisik kasar dibagian belakang lehernya untuk yang dewasa. Sedangkan yang masih muda memiliki warna kuning atau oranye dibagian kepala. V.rudicollis yang dewasa dari Thailand dan Malaysia berwarna hitam, tapi yang berasal dari Kalimantan dan Sumatra warnanya cenderung kurang hitam jika dibandingkan. V.rudicollis yang baru menetas biasanya memiliki ukuran 25 cm dengan berat 20-25 gram.
C. HABITAT
V.rudicollis banyak ditemukan di sekitar perkebunan kelapa sawit, hutan hujan, dapat juga ditemukan di hutan primer, dan rawa-rawa, yang terakhir disebut merupakan tempat mereka paling sering ditemukan. Di alam liar, V.rudicollis terbilang jarang terlihat dan bersifat pemalu, namun di musim hujan biasanya aktivitas mereka meningkat, sehingga kemungkinan mereka terlihat juga meningkat.
V.rudicollis bersifat terrestrial (menghuni daratan) dan juga arboreal (menghuni pepohonan), dalam hal ini V.rudicollis melakukan perburuan di atas tanah namun menghabiskan sisa waktu lebih banyak di atas pohon.
D. PERSEBARAN
V.rudicollis diketahui mendiami hutan hujan Thailand selatan dan Myanmar (Burma), Semenanjung Malaysia, pulau-pulau di Kepulauan Riau, Kalimantan, Sumatra dan Bangka.
E. PERILAKU MAKAN
Seperti kebanyakan jenis Varanus lainnya, V.rudicollis di alam liar juga berburu lebih dengan cara ‘kejar-tangkap’ daripada dengan cara ‘mengikuti-menyergap’. Ini semakin cocok karena V.rudicollis memiliki otot tungkai yang kuat (Shine & Harlow, 1996)
F. PERILAKU REPRODUKSI
V.rudicollis berkembang biak dengan cara bertelur, sebelum mengawini betinannya, sang jantan biasanya terlebih dahulu memperlihatkan kekuasaanya, yaitu denga cara bekelahi dengan pejantan lain. Pertarungan dilakukan dengan cara berdiri pada dua tungkai belakang, kemudian kedua pejantan tersebuat akan saling pukul atau saling tolak dengan tungkai depannya, sehingga terlihat seolah-olah mereka sedang menari bersama.
Setelah proses perkawinan selesai, telur akan disimpan di pasir atau di lumpur di tepian sungai, bercampur dengan daun-daun busuk dan ranting. Panas dari sinar matahari dan proses pembusukan serasah akan menghangatkan telur, sampai menetas, yang membutuhkan waktu sekitar 90-166 hari setelah betina bertelur.
G. PEMANFAATAN
Beberapa manfaat yang dapat diambil dari V.rudicollis adalah seperti biawak pada umumnya, yaitu kulitnya yang dapat dijadikan pelapis sepatu, dompet, tas, ikat pinggang, dll.sebagai bahan perhiasan, dan dagingnya sebagai bahan makanan atau untuk obat. Sampai saat ini hasil perdagangan kulit telah berhasil menghidupi beribu-ribu orang, terutama orang-orang desa yang memiliki tempat tinggal didekat habitat V.rudicollis. Tidak kurang dari satu juta potong kulit dikumpulkan setiap tahunnya dari bebagai bagian dunia (Shine et al. 1996, Biological Conservation 77 : 125-134).
Selain itu V.rudicollis juga dijadikan sebagai hewan timangan (pet) oleh sebagian besar orang. V.rudicollis yang dijadikan hewan timangan dapat dijual dengan harga lumayan, dan bahkan mungkin lebih tinggi dari harga penjualan kulit atau harga penjualan dagingnya sendiri.
H. KONSERVASI
Status konservasi V.rudicollis menurut CITES adalah Appendix II, yang berarti bahwa hewan ini dapat berupa keturunan dari hewan Appendix I (terancam punah bila perdagangan tidak dihentikan, pengambilan spesies berstatus Appendix I dari alam adalah ilegal kecuali untuk keperluan luar biasa sepeti penelitian, penangkaran, dll ), atau bisa juga merupakan spesies yang tidak terancam kepunahan, namun dapat terancam punah jika perdagangan hewan ini terus berlanjut.
I.  MEKANISME PERTAHANAN DIRI
Karena sifatnya yang pemalu, V.rudicollis boleh dikatakan kuarang dapat dipelajari. Namun, kebanyakan Varanus akan memanjat pohon menggunakan tungkai dan cakar mereka yang kuat untuk menghindari kejaran predator, bahkan Varanus salvator yang merupakan tipe semi-akuatik saja yang bukan merupakan arboreal, akan memanjat pohon bila dikejar pemangsa, namun bila masih tetap dikejar, V.salvator akan melompat kedalam air, sedangkan V.rudicollis kemungkinan akan melompat ke atas tanah atau dahan lain untuk menghindari kejaran pemangsa.
J. METODE PEMELIHARAAN
1. Tempat
Karena V.rudicollis merupakan terrestrial dan arboreal, maka di dalam tempat pemeliharaan akan lebih baik jika diberikan dahan pohon (seperti tempat bertengger burung) untuk tempat istirahat, ukuran dahan pohon disesuaikan sdengan ukuran tubuh V.rudicollis. pastikan juga di dalam tempat pemeliharaan ada tempat untuk bersembunyi/tertutup, ini agar V.rudicollis dapat merasa lebih nyaman di dalam kandang. Untuk substrat dasar dapat menggunakan koran, handuk atau kain, karpet, gambut, sabut kelapa, maupun tanah. Untuk individu yang baru menetas, dapat ditempatkan dalam kandang dengan ukuran 29 galon. Untuk yang agak besar dapat disimpan di kandang ukuran 55 galon. Karena laju pertumbuhan V.rudicollis yang cepat, maka kandang yang lebih besar sangat disarankan. Ukuran yang disarankan adalah 6m x 4m x 3,5m.
2. Suhu
V.rudicollis memerlukan suhu sekitar 85-90’F (sekitar 30-32’C) , dan suhu untuk tempat berjemur 90-130’F (sekitar 32-54’C). Suhu di malam hari dapat turun sampai 72’F (sekitar 22’C). Untuk mempertahankan suhu konstan, kita dapat menggunakan Under Tank Heater (UHT). Meskipun dalam aktivitasnya V.rudicollis tidak membutuhkan cahaya, tapi cahaya diketahui dapat membantu dalam pencernaan makanan.
3. Air
Mangkuk air yang besar disarankan, karena bisa berfungsi juga sebagai tempat berendam, selain itu penyiraman dengan spray sekitar 3-4 kali dalam sehari juga disarankan.
4. Makanan
Untuk yang masih muda dapat diberikan 70% serangga dan 30% mangsa berdaging seperti tikus, katak, maupun kodok kecil, ukuran masa disesuaikan dengan ukuran V.rudicollis, makanan diberikan setiap hari. Sedangkan untuk yang dewasa, dapat diberi makan 60%serangga dan 40% mangsa berdaging, diberikan tiap 3 hari sekali.
5. Pembiakan
Untuk pembiakan, V.rudicollis membutuhkan musim dingin, dalam pemeliharaan, bisa disiasati dengan meningkatkan kelembaban dan mengurangi pemanasan sehingga suhu menjadi turun. Suhu untuk pembiakan sekitar 59-63’F (sekitar 15-17’C), suhu ini harus dipertahankan selama sekitar 2-3 bulan. Setelah itu, suhu secara bertahap dinaikkan kembali.
Seekor betina dapat mengalami 1-3 kali masa bertelur setiap tahun dengan 2-14 butir telur setiap peneluran. Telur sebaiknya diinkubasi, suhu di inkubator dijaga agar tetap dalam kisaran 80-91’F ( sekitar 26-32’C). Telur akan menetas setelah 90-166 hari


Sunday, 18 December 2016

Pancake Tortoise (Malacochersus tornieri)



Jenis kura-kura darat ini memiliki cangkang datar. Spesies ini berasal dari Tanzania dan Kenya. Nama ‘Pancake’ diambil dari bentuk cangkangnya yang datar bagaikan pancake.

Ukurannya cangkangnya pipih dan datar, panjangnya sekitar 17,8cm. Carapace milikinya biasanya berwarna cokelat, diselingi dengan berbagai pola garis. Cangkangnya ini sangat fleksibel, bisa menjadi pipih agar dia bisa melewati celah-celah bebatuan. Jenis ini hanya bertelur sekali dalam setahun dan biasanya hanya menelurkan sebutir telur.

Hewan ini termasuk dalam daftar Apendix II di Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora, yang melarangkan perdagangan impor spesies ini. Kenya memberlakukan larangan untuk melakukan ekspor terhadap spesies ini, kecuali telah mendapat izin tertulis dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam. Tanzania juga melindungi spesies ini di bawah perintah Wildlife Conservation (National Game). CITES juga memberlakukan pembatasan jumlah spesies ini yang dapat diekspor, sementara Uni Eropa memberlakukan larangan ekspor atas spesies ini. Namun tetap saja perdagangan atas spesies ini tetap dilakukan para anggota Uni Eropa.

Wednesday, 30 November 2016

Red Footed Tortoise (Chelonoidis carbonaria)


Red Footed Tortoise ( Chelonoidis carbonaria ) Atau biasa disebut Kura-kura Red Foot adalah kura-kura hewan peliharaan populer berasal dari utara Amerika Selatan .

Range and habitat
Habitat alami mereka berkisar dari tenggara Panama ke Venezuela , Guyana , Suriname , dan Guyana di utara , menyusuri Andes ke barat di Kolombia , Ekuador , Peru , dan Bolivia , timur ke Brasil , dan di sepanjang selatan Bolivia , Paraguay , dan mungkin Argentina utara. Mereka tidak merata dalam penyebarannya. 
Mereka juga ditemukan pada beberapa Kepulauan Karibia , meskipun tidak jelas apakah asli atau dibawa oleh manusia . Mereka ditemukan di Antilles Belanda , Trinidad , Tobago , Grenada , Barbados , St Vincent , Grenadines , Santa Lucia , Martinique , Dominica , Guadalupe , Kepulauan Leeward , Kepulauan Virgin , dan Puerto Rico 
Habitat yang disukai dari kura-kura Red Foot bervariasi tergantung daerah tetapi umumnya meliputi suhu musiman cukup konsisten di dekat 30 ° C yang jarang mendapatkan lebih rendah dari 20 ° C atau lebih dari 35 ° C , biasanya dengan kelembaban tinggi dan banyak curah hujan meskipun beberapa daerah bisa  cukup kering .  Kura-kura Red - Foot sering ditemukan di dekat daerah transisi antara hutan dan savana , seperti pembukaan hutan , tepi kayu , atau di sepanjang saluran air
Beberapa Varian dari Red Footed Tortoise
·         Varian Northeastern
Asal                 : Venezuela , Guyana , Suriname , Guyana , dan Brazil
Keterangan      : Kepala dan warna tungkai umumnya cahaya oranye sampai merah.Plastron sebagian besar kuning pucat.

  • Varian Northwestern
    Asal                 : Panama Tenggara dan Kolombia .
Keterangan      : Mirip dengan varian Northeastern tapi warna dasar karapas bukan hitam melainkan abu-abu , coklat tua , atau kopi. Plastron pucat dengan daerah gelap sentral menyerupai tanda seru . Kepala dan anggota badan umumnya kuning pucat sampai jingga. Ukuran rata-rata sedikit lebih kecil biasa 30-35 cm.
  • Varian North
    Asal                 : Kolombia , Ekuador , dan Peru
Keterangan      : Mirip dengan varian Northeastern dengan kepala dan warna tungkai umumnya kuning pucat sampai oranye terang , jarang ada yang merah , kepala dan anggota badan sering berwarna beda . Ukuran rata-rata sedikit lebih kecil biasa - 30-35 cm.
  • Varian South
    Asal                 : Bolivia , Paraguay , Argentina utara.
Keterangan      : Karapas sering berwarna hitam sampai coklat tua , terkadang dengan cahaya abu-abu atau keputihan antara sisik . Plastron sebagian besar gelap dalam pola berbintik-bintik simetris .
  • Varian Eastern
    Asal                 : Timur ke tenggara Brazil .
Keterangan      : karapas sering memiliki abu-abu muda atau keputihan antara sisik . Plastron sebagian besar gelap dalam pola berbintik-bintik simetris . Ukuran cenderung lebih kecil daripada rata-rata varian Northeastern , juga mencapai kematangan seksual pada ukuran yang lebih kecil .  Kepala dan anggota badan baik kekuningan atau merah cherry.

Note: Jenis varian yang berkepala merah ini sering disebut ' Cherry -Head Tortoise '

Size and lifespan
Kura-kura Red - footed dewasa karapas umumnya oval memanjang dengan punggung agak datar dan termasuk kura-kura ukuran menengah yang umumnya rata-rata mencapai 30 cm, tetapi kadang bisa mencapai lebih dari 40 cm . Mereka memiliki karapas berwarna gelap dengan warna merah, orange atau kuning ringan di tengah-tengah setiap scute, dan anggota badan gelap dengan sisik kaki berwarna cerah yang berkisar dari kuning pucat hingga merah gelap.
Ukuran dewasa rata-rata bervariasi menurut wilayah dan jenis kelamin. Kura-kura Red  Foot rata-rata mencapai 30-35 cm dengan laki-laki sedikit lebih besar secara keseluruhan . Kadang ada yang mencapai hingga 45 cm dan pernah ditemukan Red Foot raksasa berasal dari Paraguay dengan panjang 60 cm dan berat lebih dari 28 kg

Handling
Red Foot paling aktif pada suhu 27-30 ° C.  Suasana yang hangat dari 30-31 ° C sangat dianjurkan , dan suhu malam hari bisa turun beberapa derajat lebih rendah . Tingginya kadar kelembaban harus tersedia dalam beberapa bagian dari habitat .
Pencahayaan harus rendah dan menyebar.
Lampu UVB dianjurkan untuk membantu memetabolisme kalsium dan membantu mengatur kelenjar pineal jika kura-kura akan berada di dalam ruangan untuk waktu yang lama .

Diet
Sebagian besar makanan Red Footed Tortoise adalah rumput , daun, bunga , akar , dan tunas dari berbagai macam tanaman serta jamur , invertebrata hidup (seperti semut , rayap , kumbang , kupu-kupu , siput , dan cacing ) , bangkai , dan feses ( terutama dari rubah ). Kadang makan binatang hidup kecil seperti ular dan tikus .
Kura-kura Red Footed termasuk omnivora akan mencari makanan tinggi kalsium pada makanan yang tersedia dan bahkan akan makan tanah kaya mineral jika mereka tidak bisa mendapatkan kalsium yang cukup dalam makanan


Breeding
Kura-kura Redfoot mulai berkembang biak ketika panjang 15-20cm.
Jantan memiliki plastron sangat cekung dan betina biasanya memiliki plastron datar meskipun dapat sedikit cekung.


Perkawinan dimulai dengan jantan yang berjalan dekat di belakang betina. Dia perlahan-lahan akan mencoba untuk me-mount sambil membiarkan serangkaian dengkur rendah

Betina akan mulai bersarang lima sampai enam minggu setelah kawin . Menggali sarang seringkali jika sulit pada tanah keras, Betina buang air kecil untuk melunakkan tanah sebelum menggunakan kaki belakangnya untuk menggali ruang sekitar 10 cm dengan 20cm dalamnya.dalam satu sarang biasanya terdapat 2-7 telur. Betina akan menutupi sarang dan memadatkan tanah setelah bertelur dan sangat jarang kura-kura Red Foot akan bertelur di permukaan, atau dalam sepetak kaktus. Masa inkubasi 105-202 hari dengan 150 hari umumnya.