Showing posts with label varanus. Show all posts
Showing posts with label varanus. Show all posts

Wednesday, 4 January 2017

Jenis jenis VARANUS (biawak) - part1

VARANUS PRASINUS (BIAWAK POHON)



VARANUS SIMILIS



VARANUS TIMORENSIS



VARANUS INDICUS




VARANUS MELINUS 




VARANUS RUDICOLIS




VARANUS PRASINUS REISINGERI




VARANUS BIVITATTUS




VARANUS CELEBENSIS




VARANUS ZIEGLERI




VARANUS SALVADORI

Thursday, 22 December 2016

Varanus Similis


Oke ditulisan kali ini saya akan sedikit membahas tentang Varanus Similis. Varanus Similis termasuk kedalam Varanus Timorensis complex, jadi V.Similis merupakan jenis biawak yang berukuran kecil, panjang maksimal rata-rata hanya mencapai 65cm. Jika hanya mempunyai tempat memelihara yang minim, similis termasuk salah satu jenis biawak yang dapat dijadikan pilihan.


Varanus Similis memiliki warna perpaduan antara putih dan abu - abu. Varanus Similis tersebar di daerah Papua dan Australia. Meski similis merupakan jenis yang ada di pohon ataupun tebing, namun lebih sering ditemukan di dataran ketika dia mencari makanan.Varanus Similis ini biasa memakan serangga ataupun kadal - kadal yang lebih kecil lainnya. Jika ingin memilihnya sebagai binatang peliharaan, lebih baik kita menambahkan juga tempat bersembunyi baginya agar dia merasa lebih nyaman. :)

Varanus rudicollis (Roughneck monitor)

A. KLASIFIKASI
Klasifikasi spesies bisa dilihat di bawah ini.
Kingdom    : Animalia
Phylum     : Chordata
Class      : Reptilia
Sub – Class: Lepidosauria
Order      : Squmata
Suborder   : Sauria (Lacertilia)
Family     : Varanidae
Genus      : Varanus
Species    : Varanus rudicollis (Gray, 1845)


B. DESKRIPSI MORFOLOGI, CIRI-CIRI DAN ANATOMI
V.rudicollis memiliki tubuh yang bisa dibilang berkisar dari sedang ke panjang. Ukuran tubuh untuk V.rudicollis dewasa adalah sekitar 90-120 cm. Dengan ukuran terpanjang yang pernah dilaporkan adalah 180 cm. V.rudicollis dapat dengan mudah dikenali melalui sekelompok sisik kasar dibagian belakang lehernya untuk yang dewasa. Sedangkan yang masih muda memiliki warna kuning atau oranye dibagian kepala. V.rudicollis yang dewasa dari Thailand dan Malaysia berwarna hitam, tapi yang berasal dari Kalimantan dan Sumatra warnanya cenderung kurang hitam jika dibandingkan. V.rudicollis yang baru menetas biasanya memiliki ukuran 25 cm dengan berat 20-25 gram.
C. HABITAT
V.rudicollis banyak ditemukan di sekitar perkebunan kelapa sawit, hutan hujan, dapat juga ditemukan di hutan primer, dan rawa-rawa, yang terakhir disebut merupakan tempat mereka paling sering ditemukan. Di alam liar, V.rudicollis terbilang jarang terlihat dan bersifat pemalu, namun di musim hujan biasanya aktivitas mereka meningkat, sehingga kemungkinan mereka terlihat juga meningkat.
V.rudicollis bersifat terrestrial (menghuni daratan) dan juga arboreal (menghuni pepohonan), dalam hal ini V.rudicollis melakukan perburuan di atas tanah namun menghabiskan sisa waktu lebih banyak di atas pohon.
D. PERSEBARAN
V.rudicollis diketahui mendiami hutan hujan Thailand selatan dan Myanmar (Burma), Semenanjung Malaysia, pulau-pulau di Kepulauan Riau, Kalimantan, Sumatra dan Bangka.
E. PERILAKU MAKAN
Seperti kebanyakan jenis Varanus lainnya, V.rudicollis di alam liar juga berburu lebih dengan cara ‘kejar-tangkap’ daripada dengan cara ‘mengikuti-menyergap’. Ini semakin cocok karena V.rudicollis memiliki otot tungkai yang kuat (Shine & Harlow, 1996)
F. PERILAKU REPRODUKSI
V.rudicollis berkembang biak dengan cara bertelur, sebelum mengawini betinannya, sang jantan biasanya terlebih dahulu memperlihatkan kekuasaanya, yaitu denga cara bekelahi dengan pejantan lain. Pertarungan dilakukan dengan cara berdiri pada dua tungkai belakang, kemudian kedua pejantan tersebuat akan saling pukul atau saling tolak dengan tungkai depannya, sehingga terlihat seolah-olah mereka sedang menari bersama.
Setelah proses perkawinan selesai, telur akan disimpan di pasir atau di lumpur di tepian sungai, bercampur dengan daun-daun busuk dan ranting. Panas dari sinar matahari dan proses pembusukan serasah akan menghangatkan telur, sampai menetas, yang membutuhkan waktu sekitar 90-166 hari setelah betina bertelur.
G. PEMANFAATAN
Beberapa manfaat yang dapat diambil dari V.rudicollis adalah seperti biawak pada umumnya, yaitu kulitnya yang dapat dijadikan pelapis sepatu, dompet, tas, ikat pinggang, dll.sebagai bahan perhiasan, dan dagingnya sebagai bahan makanan atau untuk obat. Sampai saat ini hasil perdagangan kulit telah berhasil menghidupi beribu-ribu orang, terutama orang-orang desa yang memiliki tempat tinggal didekat habitat V.rudicollis. Tidak kurang dari satu juta potong kulit dikumpulkan setiap tahunnya dari bebagai bagian dunia (Shine et al. 1996, Biological Conservation 77 : 125-134).
Selain itu V.rudicollis juga dijadikan sebagai hewan timangan (pet) oleh sebagian besar orang. V.rudicollis yang dijadikan hewan timangan dapat dijual dengan harga lumayan, dan bahkan mungkin lebih tinggi dari harga penjualan kulit atau harga penjualan dagingnya sendiri.
H. KONSERVASI
Status konservasi V.rudicollis menurut CITES adalah Appendix II, yang berarti bahwa hewan ini dapat berupa keturunan dari hewan Appendix I (terancam punah bila perdagangan tidak dihentikan, pengambilan spesies berstatus Appendix I dari alam adalah ilegal kecuali untuk keperluan luar biasa sepeti penelitian, penangkaran, dll ), atau bisa juga merupakan spesies yang tidak terancam kepunahan, namun dapat terancam punah jika perdagangan hewan ini terus berlanjut.
I.  MEKANISME PERTAHANAN DIRI
Karena sifatnya yang pemalu, V.rudicollis boleh dikatakan kuarang dapat dipelajari. Namun, kebanyakan Varanus akan memanjat pohon menggunakan tungkai dan cakar mereka yang kuat untuk menghindari kejaran predator, bahkan Varanus salvator yang merupakan tipe semi-akuatik saja yang bukan merupakan arboreal, akan memanjat pohon bila dikejar pemangsa, namun bila masih tetap dikejar, V.salvator akan melompat kedalam air, sedangkan V.rudicollis kemungkinan akan melompat ke atas tanah atau dahan lain untuk menghindari kejaran pemangsa.
J. METODE PEMELIHARAAN
1. Tempat
Karena V.rudicollis merupakan terrestrial dan arboreal, maka di dalam tempat pemeliharaan akan lebih baik jika diberikan dahan pohon (seperti tempat bertengger burung) untuk tempat istirahat, ukuran dahan pohon disesuaikan sdengan ukuran tubuh V.rudicollis. pastikan juga di dalam tempat pemeliharaan ada tempat untuk bersembunyi/tertutup, ini agar V.rudicollis dapat merasa lebih nyaman di dalam kandang. Untuk substrat dasar dapat menggunakan koran, handuk atau kain, karpet, gambut, sabut kelapa, maupun tanah. Untuk individu yang baru menetas, dapat ditempatkan dalam kandang dengan ukuran 29 galon. Untuk yang agak besar dapat disimpan di kandang ukuran 55 galon. Karena laju pertumbuhan V.rudicollis yang cepat, maka kandang yang lebih besar sangat disarankan. Ukuran yang disarankan adalah 6m x 4m x 3,5m.
2. Suhu
V.rudicollis memerlukan suhu sekitar 85-90’F (sekitar 30-32’C) , dan suhu untuk tempat berjemur 90-130’F (sekitar 32-54’C). Suhu di malam hari dapat turun sampai 72’F (sekitar 22’C). Untuk mempertahankan suhu konstan, kita dapat menggunakan Under Tank Heater (UHT). Meskipun dalam aktivitasnya V.rudicollis tidak membutuhkan cahaya, tapi cahaya diketahui dapat membantu dalam pencernaan makanan.
3. Air
Mangkuk air yang besar disarankan, karena bisa berfungsi juga sebagai tempat berendam, selain itu penyiraman dengan spray sekitar 3-4 kali dalam sehari juga disarankan.
4. Makanan
Untuk yang masih muda dapat diberikan 70% serangga dan 30% mangsa berdaging seperti tikus, katak, maupun kodok kecil, ukuran masa disesuaikan dengan ukuran V.rudicollis, makanan diberikan setiap hari. Sedangkan untuk yang dewasa, dapat diberi makan 60%serangga dan 40% mangsa berdaging, diberikan tiap 3 hari sekali.
5. Pembiakan
Untuk pembiakan, V.rudicollis membutuhkan musim dingin, dalam pemeliharaan, bisa disiasati dengan meningkatkan kelembaban dan mengurangi pemanasan sehingga suhu menjadi turun. Suhu untuk pembiakan sekitar 59-63’F (sekitar 15-17’C), suhu ini harus dipertahankan selama sekitar 2-3 bulan. Setelah itu, suhu secara bertahap dinaikkan kembali.
Seekor betina dapat mengalami 1-3 kali masa bertelur setiap tahun dengan 2-14 butir telur setiap peneluran. Telur sebaiknya diinkubasi, suhu di inkubator dijaga agar tetap dalam kisaran 80-91’F ( sekitar 26-32’C). Telur akan menetas setelah 90-166 hari


Thursday, 1 December 2016

VARANUS PRASINUS




Status konservasi : CITES Appendix II (CITES)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan          : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Sauropsida
Order               : Squamata
Subordo          : Lacertilia
Keluarga          : Varanidae
Genus              : Varanus
Subgenus         : Euprepiosaurus
Spesies            : V. prasinus
Nama binomial:Varanus prasinus Schlegel, 1839

Peta yang menunjukkan distribusi Varanus prasinus, ditemukan di seluruh Papua Nugini dan beberapa pulau di Selat Torres.
Distribusi monitor pohon zamrud, ditampilkan dalam warna merah.
Monitor pohon zamrud (Varanus prasinus) atau monitor pohon hijau, adalah kecil dan menengah arboreal biawak. Hal ini dikenal dengan warna yang tidak biasa, yang terdiri dari warna dari hijau ke biru kehijauan, atasnya dengan gelap, melintang punggung banding. Warna ini membantu kamuflase di habitat arboreal nya. [2] Warnanya juga membuat monitor pohon zamrud yang sangat dimanfaatkan untuk perdagangan hewan peliharaan dan disimpan di kebun binatang sama.
Taksonomi
V. prasinus pertama kali digambarkan sebagai monitor viridis oleh John Edward Gray pada tahun 1831; Namun, holotype asli Gray (RMNH 4812 di Natural History Museum Nasional di Leiden) adalah hilang dan spesies itu redescribed oleh Schlegel delapan tahun kemudian sebagai V. prasinus menggunakan spesimen ditemukan. Nama generik Varanus berasal dari bahasa Arab waral kata (ورل), yang diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai “memantau”. nama khusus Its, prasinus, adalah Latin untuk warna hijau.
V. prasinus adalah anggota dari subgenus Euprepiosaurus. Hal ini berkaitan erat dengan beberapa spesies arboreal lainnya; bila dikombinasikan, ini sering disebut sebagai V. prasinus kelompok spesies. Selain V. prasinus, kelompok spesies ini, yang anggotanya semua allopatric, termasuk V. beccarii (Kepulauan Aru), V. boehmei (Pulau Waigeo), V. bogerti (D’Entrecasteaux Archipelago), V. keithhornei (Cape York Peninsula), V. kordensis (Pulau Biak), V. macraei (Batanta Island), V. reisingeri (Pulau Misool) dan V. telenesetes (Rossel Island).
Perkembangan evolusi
Perkembangan evolusi V. prasinus dimulai dengan genus Varanus, yang berasal di Asia sekitar 40 juta tahun yang lalu dan bermigrasi ke Australia dan kepulauan Indonesia sekitar 15 juta tahun yang lalu.
Distribusi
Monitor pohon zamrud dan kerabat dekat mereka dapat ditemukan di New Guinea, serta beberapa pulau yang berdekatan, dan utara Selat Torres Kepulauan. Monitor pohon hijau dilaporkan berkembang di lingkungan dataran rendah, termasuk hutan cemara tropis , rawa sawit dan perkebunan kakao.
Deskripsi
Emerald pohon monitor di Kebun Binatang Bristol
Monitor pohon zamrud adalah sekitar 75-100 cm (30-39 in) panjang dengan tubuh langsing yang membantu mendukung dirinya pada cabang yang sempit. Menggunakan ekor dpt memegang dan cakar panjang untuk cabang pegangan. Tidak seperti varanids lainnya, monitor ini membela ekornya daripada memukul dengan itu untuk pertahanan ketika terancam. telapak kaki dari zamrud pohon memantau telah diperbesar skala yang membantu kadal saat mendaki.
Ekologi
Ketika terancam, pohon memantau zamrud akan melarikan diri melalui vegetasi atau menggigit jika terpojok. Ini adalah salah satu dari beberapa monitor sosial, hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari laki-laki yang dominan, beberapa perempuan, dan beberapa laki-laki dan remaja lainnya.
Diet
Diet zamrud pohon monitor terdiri dari pohon-tinggal arthropoda besar, seperti katydids, tongkat serangga, kecoa, kumbang, lipan, laba-laba, kepiting, burung, dan mamalia kecil. Sebelum menelan tongkat serangga, kadal merobek kaki [9] spesimen Captive merobek anggota badan tikus sebelum makan mereka.; sebagai akibatnya, mereka mampu menelan mamalia dari ukuran yang cukup besar: A 135-g kadal didokumentasikan sebagai makan 40 g tikus, hampir sepertiga ukurannya.
Reproduksi
Cengkeraman terdiri dari hingga lima telur, masing-masing seberat 10,5-11,5 g (0,37-0,41 oz) dan berukuran sekitar 2 sebesar 4,5 cm (0,79 oleh 1,77 di). Sebanyak tiga cengkeraman diletakkan sepanjang tahun; cengkeraman telah diletakkan oleh tawanan pada bulan Januari, Maret, April, November, dan Desember.

Monitor pohon zamrud betina bertelur di sarang rayap arboreal. Telur menetas antara 160 dan 190 hari kemudian, biasanya dari bulan Juni sampai November, setelah itu muda makan rayap dan telur rayap dalam hitungan menit menetas. kematangan seksual dicapai dalam waktu sekitar satu tahun.

BIAWAK / VARANUS

1. Klasifikasi Biawak
Klasifikasi ilmiah dari biawak adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Reptilia
Ordo                : Squamata
Famili             : Varanidae
Genus              : Varanus
Spesies            : Biawak kuning (Varanus melinus) atau quince lizard monitor, Biawak ekor biru (Varanus doreanus) atau blue tail lizard monitor, dan Biawak dumeril (Varanus dumerilii) atau Brown Rough Necked, dumeril’s monitor.
         Biawak merupakan hewan yang masuk dalam golongan kadal besar, dalam suku biawak-biawakan (varanidae). Di Indonesia terdapat banyak jenis biawak, tiga diantaranya adalah biawak kuning (Varanus melinus), biawak ekor biru (Varanus doreanus), dan biawak dumeril (Varanus dumerilii).
2. Morfologi
Biawak merupakan jenis kadal terbesar. Salah satu jenis biawak terbesar yang dapat ditemukan di Indonesia adalah komodo (Varanus komodoensis). Auffenberg (1981a) diacu dalam Bennet (1998) mengatakan biawak terkecil yang ditemukan adalah Varanus brevicauda dengan ukuran panjang kurang lebih 23 cm dan berat 20 g. Ditemukan juga biawak air asia (Varanus salvator) terpanjang di Sri lanka dengan panjang 321 cm.          Ukuran tubuh biawak menunjukkan variasi yang banyak dibanding famili dari satwa lain (Pianka 1995) diacu dalam Bennet (1998). Famili yang termasuk dari dua jenis biawak yang berukuran besar yaitu Varanus komodoensis dan biawak terbesar yang pernah ada Megalinia prisca (Bennett 1998).
Biawak kuning (Varanus melinus) adalah dari subgenera Euprepiosaurus, berdekatan dengan spesies Varanus indicus tetapi mudah dibedakan dari warna kuningnya. Panjang total dari spesies ini sekitar 80 – 120 cm. Biawak kuning memiliki ciri-ciri fisik badan berwarna kuning, lidah berwarna pink, bagian leher berwarna hitam dengan kepala batik
3. Habitat dan Makanan
         Habitat adalah suatu daerah yang merupakan kawasan yang terdiri dari berbagai komponen fisik dan biotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup dan berkembangbiak (Alikodra 1990). Biawak melakukan aktivitas di hutan rawa, karena pada tipe habitat ini biawak lebih mudah menjumpai mangsa yang sedang melakukan aktivitas mencari makan dan minum di sekitar daerah perairan (Iyai dan Pattiselano 2005).
         Biawak merupakan satwa predator, yaitu satwa pemangsa atau pemakan daging (karnivora)Menurut Bennet (1998) biawak memakan serangga, kerang, dan sisa-sisa ikan dari biawak dewasa, sedangkan biawak dewasa memakan ular, penyu, telur dan anak buaya, burung, katak, tikus, kera, rusa kecil, bangkai hewan dan bangkai manusia. Shine et al. (1998) menyatakan bahwa biawak memangsa jenis-jenis vertebrata seperti kucing, tikus, ayam dan jenis invertebrata seperti serangga dan kepiting.
         Jenis biawak kuning wilayah penyebarannya di kepulauan Maluku, Pulau Obi dan Pulau Sula dengan habitat hutan arboreal atau semi terestrial. Jenis makanan dari biawak kuning adalah tikus dan serangga (Anonim IV 2010). Biawak ekor biru tersebar di daerah timur yaitu Papua Nugini dan Australia, dan umumnya habitatnya berupa hutan terestrial. Jenis makanan biawak ekor biru adalah serangga, tikus, dan ikan (Anonim III 2010). Biawak dumeril tersebar di Semenanjung Malaysia dan pulau-pulau besar di Indonesia. Biawak dumeril hidup di habitat dataran rendah dan mangrove. Jenis makanan untuk biawak dumeril antara lain serangga, kepiting, ikan, telur, mamalia kecil dan burung (Anonim VII 2010).
4. Perilaku
          Perilaku merupakan salah satu ekspresi yang ditunjukkan oleh satwa, terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya baik itu internal maupun eksternal (Suratmo 1979). Terdapat beberapa perbedaan sifat perilaku pada satwa yang dipelihara dan satwa liar. Perilaku dikelompokkan menjadi beberapa pola perilaku utama oleh Scott’s (1950) dalam Lehner (1979), yaitu :
1. Perilaku makan dan minum (ingestive behaviour)
2. Perilaku mencari tempat berlindung (shelter seeking)
3. Perilaku bertentangan (agonistic behaviour)
4. Perilaku memelihara (epimeletic behaviour)
5. Perilaku ingin dipelihara (et-epimeletic behaviour)
6. Perilaku meniru (allelomimetic behaviour)
7. Perilaku membuang kotoran (eliminative behaviour)
8. Perilaku memeriksa (investigate behaviour)
        Bentuk perilaku biawak yang sudah menjadi rutinitas harian adalah berjemur (basking). Menurut Gumilang (2002) basking dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.30-10.00 WIB dan menjelang sore hari pada pukul 15.30-17.30 WIB dengan lama waktu rata-rata berjemur 87 menit.
         Menurut Bennet (1998), biawak biasanya tidak bersosialisasi dengan binatang lain. Biawak mempunyai kemampuan untuk mendeteksi kehadiran biawak lain dengan mencium bau yang ditinggalkan. Kegiatan berkelahi dapat juga merupakan suatu cara untuk menguji kekuatan biawak tanpa menimbulkan cedera yang serius terutama akibat gigitan.
5. Status
         Biawak kuning, biawak ekor biru dan biawak dumeril termasuk dalam daftar CITES. CITES atau singkatan dari Convention on International Trade in Endangered Species, adalah konferensi yang membahas mengenai status perlindungan satwa di dalam perdagangan. Status biawak kuning, biawak ekor biru, dan biawak dumeril masuk ke dalam kategori Appendiks II, yang artinya pemanfaatan hanya boleh dilakukan dari hasil penangkaran, dan pengambilan di alam jumlahnya dibatasi dengan kuota tertentu.

          Kurang lebih 10 juta berbagai jenis reptil dibunuh untuk dimanfaatkan kulit dan dagingnya yang dipercaya masyarakat dapat dijadikan sebagai obat. Indonesia merupakan salah satu pengekspor kulit reptil yaitu 83% dari kebutuhan kulit dunia dan 75% produk kulit tersebut berasal dari Kalimantan dan Sumatera (Endelen 1998, diacu dalam Gumilang 2001