Showing posts with label animal. Show all posts
Showing posts with label animal. Show all posts

Tuesday, 27 December 2016

KURA KURA DAUN / BERGERIGI

Kura-kura bergerigi atau Asian Leaf Turtle  yang memiliki nama ilmiah Cyclemys dentate ini mendapatkan namanya dari gerigi gerigi yang terdapat pada perisainya. Kura-kura Asian Leaf yang termasuk dalam family Geoemydidae dengan genus Cyclemys ini sering diperjual-belikan sebagai hewan peliharaan. Kura kura ini juga dikenal dengan sebutan kura-kura ceper. Ada juga yang menyebutnya sebagai kura-kura daun Asia, mengikuti namanya dalam bahasa Inggris, Asian Leaf Turtle.

Kura-kura Asian Leaf yang biasa hidup di air tawar yaitu di sungai sungai besar atau kecil yang aliran airnya lambat. Panjang tempurungnya atau karapasnya bisa mencapai panjang 24 cm saat dewasa. Kura kura Asian Leaf memiliki lima buah keping sisik vertebral di bagian tengah punggungnya. Keping-keping vertebral ini memiliki tonjolan memanjang, namun tonjolan ini cenderung akan menghilang setelah dewasa. Lehernya memiliki garis-garis memanjang, berwarna kekuningan atau kemerahan. Keping-keping sisik pada plastron atau penutup dada dan perut dihiasi dengan coretan-coretan radial berwarna kehitaman bercorak tebal atau tipis sampai mengabur.

Kura-kura ceper yang sesungguhnya yang biasa diperdagangkan adalah beiyogo yang bernama ilmiah Notochelys platynota. Dua jenis kura kura ini bisa dibedakan dari keping vertebral ke-5 atau ke-6 (kedua dari belakang) yang jauh menyempit dibandingkan dengan keping sebelum dan sesudahnya. Sedangkan kura-kura matahari atau kura-kura duri (Heosemys spinosa) memiliki gerigi pada semua keping marginalnya, bukan hanya pada keping marginal di bagian belakang.

Kura-kura ini menyebar dari India bagian utara, Bangladesh, Burma, Cina, Kamboja, Vietnam,Thailand, Semenanjung Malaya, Indonesia dan Filipina. Di Indonesia kura kura ini bisa didapati di Mentawai, Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Bali. Cyclemys dentata banyak diperdagangkan untuk dipelihara. Selain itu, bagi penduduk yang masih tradisional, hewan ini juga menjadi buruan untuk memenuhi kebutuhan protein di pedalaman. Meskipun mengalami tekanan sedemikian hingga populasinya hampir terancam punah, hewan ini belum dilindungi oleh undang-undang.

KURA KURA BATOK/AMBON

Kura-kura Ambon (Cuora amboinensis) biasa disebut juga dengan kura batok, kura dada, kura kotak atau kura katup. Kura kura jenis ini adalah salah satu jenis kura-kura yang banyak dijual di pasaran. Walaupun namanya kura-kura Ambon, tapi kura kura ini banyak ditemukan juga di Sulawesi, Sumatra dan beberapa negara selain Indonesia seperti Thailand, Philipina, Malaysia, dll.
Kura-kura Ambon termasuk kura-kura yang hidup dengan habitat campuran antara darat dan air atau biasa disebut semi aquatik. Di habitatnya, kura-kura Ambon tinggal di dekat sungai atau sawah dengan berlindung pada rerumputan atau tumbuhan yang ada di sepanjang sungai.
Kura-kura Ambon menyukai ikan kecil, udang dan cacing. Kura-kura Ambon peliharaan dapat diberikan makanan tambahan berupa sayuran atau pelet.
Kura-kura Ambon memiliki cangkang dengan berbentuk seperti kotak dengan berbagai variasi bentuk tinggi dan rendah. Mempunyai warna kekuningan di sekitar muka sampai leher dengan diselingi garis hitam pada wajah.
Sama dengan jenis kura-kura semi akuatik lainnya, memelihara kura-kura Ambon memerlukan ketelitian dan kesabaran. Mulai dari tempat tinggal, tempat makan dan perawatan harus dilakukan secara benar supaya kura kura ambon tidak cepat mati karena sakit. Sebelum membeli kura-kura Ambon sebaiknya tanyakan cara perawatan kura kura ini pada penjualnya. Sebagai tambahan, cari info atau referensi juga tentang perawatan dan pemeliharaan kura-kura  Ambon agar kura kura ambon bisa bertahan hidup lama dan sehat.
Hal yang perlu diperhatikan selain perawatan adalah asal dari kura-kura Ambon yang akan dibeli. Kebanyakan kura-kura Ambon yang dijual berasal dari penangkapan di habitat aslinya. Hal ini tentu saja akan mengganggu keseimbangan alam. Alangkah lebih baik jika Anda membeli kura-kura Ambon yang dihasilkan dari penangkaran.
Untuk yang ingin memilih kura-kura Ambon sebagai hewan peliharaan sebaiknya pikirkan ulang budget dan perawatan kura-kura nantinya. Karena akan sia-sia saja jika sudah keluar uang cukup banyak namun kura-kura Ambon yang dipelihara mati lebih cepat dari perkiraan umur seharusnya.

PAKAN
Reptile ini menyukai ikan kecil, udang, dan cacing sebagai pakannya. Kura kura peliharaan dapat ditambahkan pelet dan sayuran, untuk selingan juga dapat diberikan buah-buahan sepperti pisang, pepaya ataupun melon.

PERAWATAN KURA-KURA AMBON
Sama dengan jnis kura-kura semi aquatic lainnya memelihara kura-kura ambon memerlukan ketelitian dan kesabaran. Mulai dari tempat tinggal, tempat makan dan perawatan harus dilakukan secara profesional agar tidak cepat mati karena sakit atau kecelakaan.
Kunci sukse memelihra kura-kura ambon adalah pada pemberian makan dan kebersihan kandangnya. Ketika kura-kura ini dipelihara pakan harus diberikan secara variatif, ada dua jenis pakan kura-kura yaitu hidup, sayuran dan pelet.

Pakan hidup berupa ikan kecil antara lain anakan lele, wader, ataupun ikan kecil yang hidup di sungai. Selain itu anda bisa memberikan ulat hongkong, jangkrik dan belalang. Pakan ini berfungsi meningkatkan pertumbuhan badan. Selain itu jangan lupa memberi pakan sayuran, berupa daun kangkung, selada, bayam dan irisan wortel. Sebaiknya sayuran dicuci dulu sebelum disodorkan kepada kura-kura anda. 

Thursday, 22 December 2016

Varanus rudicollis (Roughneck monitor)

A. KLASIFIKASI
Klasifikasi spesies bisa dilihat di bawah ini.
Kingdom    : Animalia
Phylum     : Chordata
Class      : Reptilia
Sub – Class: Lepidosauria
Order      : Squmata
Suborder   : Sauria (Lacertilia)
Family     : Varanidae
Genus      : Varanus
Species    : Varanus rudicollis (Gray, 1845)


B. DESKRIPSI MORFOLOGI, CIRI-CIRI DAN ANATOMI
V.rudicollis memiliki tubuh yang bisa dibilang berkisar dari sedang ke panjang. Ukuran tubuh untuk V.rudicollis dewasa adalah sekitar 90-120 cm. Dengan ukuran terpanjang yang pernah dilaporkan adalah 180 cm. V.rudicollis dapat dengan mudah dikenali melalui sekelompok sisik kasar dibagian belakang lehernya untuk yang dewasa. Sedangkan yang masih muda memiliki warna kuning atau oranye dibagian kepala. V.rudicollis yang dewasa dari Thailand dan Malaysia berwarna hitam, tapi yang berasal dari Kalimantan dan Sumatra warnanya cenderung kurang hitam jika dibandingkan. V.rudicollis yang baru menetas biasanya memiliki ukuran 25 cm dengan berat 20-25 gram.
C. HABITAT
V.rudicollis banyak ditemukan di sekitar perkebunan kelapa sawit, hutan hujan, dapat juga ditemukan di hutan primer, dan rawa-rawa, yang terakhir disebut merupakan tempat mereka paling sering ditemukan. Di alam liar, V.rudicollis terbilang jarang terlihat dan bersifat pemalu, namun di musim hujan biasanya aktivitas mereka meningkat, sehingga kemungkinan mereka terlihat juga meningkat.
V.rudicollis bersifat terrestrial (menghuni daratan) dan juga arboreal (menghuni pepohonan), dalam hal ini V.rudicollis melakukan perburuan di atas tanah namun menghabiskan sisa waktu lebih banyak di atas pohon.
D. PERSEBARAN
V.rudicollis diketahui mendiami hutan hujan Thailand selatan dan Myanmar (Burma), Semenanjung Malaysia, pulau-pulau di Kepulauan Riau, Kalimantan, Sumatra dan Bangka.
E. PERILAKU MAKAN
Seperti kebanyakan jenis Varanus lainnya, V.rudicollis di alam liar juga berburu lebih dengan cara ‘kejar-tangkap’ daripada dengan cara ‘mengikuti-menyergap’. Ini semakin cocok karena V.rudicollis memiliki otot tungkai yang kuat (Shine & Harlow, 1996)
F. PERILAKU REPRODUKSI
V.rudicollis berkembang biak dengan cara bertelur, sebelum mengawini betinannya, sang jantan biasanya terlebih dahulu memperlihatkan kekuasaanya, yaitu denga cara bekelahi dengan pejantan lain. Pertarungan dilakukan dengan cara berdiri pada dua tungkai belakang, kemudian kedua pejantan tersebuat akan saling pukul atau saling tolak dengan tungkai depannya, sehingga terlihat seolah-olah mereka sedang menari bersama.
Setelah proses perkawinan selesai, telur akan disimpan di pasir atau di lumpur di tepian sungai, bercampur dengan daun-daun busuk dan ranting. Panas dari sinar matahari dan proses pembusukan serasah akan menghangatkan telur, sampai menetas, yang membutuhkan waktu sekitar 90-166 hari setelah betina bertelur.
G. PEMANFAATAN
Beberapa manfaat yang dapat diambil dari V.rudicollis adalah seperti biawak pada umumnya, yaitu kulitnya yang dapat dijadikan pelapis sepatu, dompet, tas, ikat pinggang, dll.sebagai bahan perhiasan, dan dagingnya sebagai bahan makanan atau untuk obat. Sampai saat ini hasil perdagangan kulit telah berhasil menghidupi beribu-ribu orang, terutama orang-orang desa yang memiliki tempat tinggal didekat habitat V.rudicollis. Tidak kurang dari satu juta potong kulit dikumpulkan setiap tahunnya dari bebagai bagian dunia (Shine et al. 1996, Biological Conservation 77 : 125-134).
Selain itu V.rudicollis juga dijadikan sebagai hewan timangan (pet) oleh sebagian besar orang. V.rudicollis yang dijadikan hewan timangan dapat dijual dengan harga lumayan, dan bahkan mungkin lebih tinggi dari harga penjualan kulit atau harga penjualan dagingnya sendiri.
H. KONSERVASI
Status konservasi V.rudicollis menurut CITES adalah Appendix II, yang berarti bahwa hewan ini dapat berupa keturunan dari hewan Appendix I (terancam punah bila perdagangan tidak dihentikan, pengambilan spesies berstatus Appendix I dari alam adalah ilegal kecuali untuk keperluan luar biasa sepeti penelitian, penangkaran, dll ), atau bisa juga merupakan spesies yang tidak terancam kepunahan, namun dapat terancam punah jika perdagangan hewan ini terus berlanjut.
I.  MEKANISME PERTAHANAN DIRI
Karena sifatnya yang pemalu, V.rudicollis boleh dikatakan kuarang dapat dipelajari. Namun, kebanyakan Varanus akan memanjat pohon menggunakan tungkai dan cakar mereka yang kuat untuk menghindari kejaran predator, bahkan Varanus salvator yang merupakan tipe semi-akuatik saja yang bukan merupakan arboreal, akan memanjat pohon bila dikejar pemangsa, namun bila masih tetap dikejar, V.salvator akan melompat kedalam air, sedangkan V.rudicollis kemungkinan akan melompat ke atas tanah atau dahan lain untuk menghindari kejaran pemangsa.
J. METODE PEMELIHARAAN
1. Tempat
Karena V.rudicollis merupakan terrestrial dan arboreal, maka di dalam tempat pemeliharaan akan lebih baik jika diberikan dahan pohon (seperti tempat bertengger burung) untuk tempat istirahat, ukuran dahan pohon disesuaikan sdengan ukuran tubuh V.rudicollis. pastikan juga di dalam tempat pemeliharaan ada tempat untuk bersembunyi/tertutup, ini agar V.rudicollis dapat merasa lebih nyaman di dalam kandang. Untuk substrat dasar dapat menggunakan koran, handuk atau kain, karpet, gambut, sabut kelapa, maupun tanah. Untuk individu yang baru menetas, dapat ditempatkan dalam kandang dengan ukuran 29 galon. Untuk yang agak besar dapat disimpan di kandang ukuran 55 galon. Karena laju pertumbuhan V.rudicollis yang cepat, maka kandang yang lebih besar sangat disarankan. Ukuran yang disarankan adalah 6m x 4m x 3,5m.
2. Suhu
V.rudicollis memerlukan suhu sekitar 85-90’F (sekitar 30-32’C) , dan suhu untuk tempat berjemur 90-130’F (sekitar 32-54’C). Suhu di malam hari dapat turun sampai 72’F (sekitar 22’C). Untuk mempertahankan suhu konstan, kita dapat menggunakan Under Tank Heater (UHT). Meskipun dalam aktivitasnya V.rudicollis tidak membutuhkan cahaya, tapi cahaya diketahui dapat membantu dalam pencernaan makanan.
3. Air
Mangkuk air yang besar disarankan, karena bisa berfungsi juga sebagai tempat berendam, selain itu penyiraman dengan spray sekitar 3-4 kali dalam sehari juga disarankan.
4. Makanan
Untuk yang masih muda dapat diberikan 70% serangga dan 30% mangsa berdaging seperti tikus, katak, maupun kodok kecil, ukuran masa disesuaikan dengan ukuran V.rudicollis, makanan diberikan setiap hari. Sedangkan untuk yang dewasa, dapat diberi makan 60%serangga dan 40% mangsa berdaging, diberikan tiap 3 hari sekali.
5. Pembiakan
Untuk pembiakan, V.rudicollis membutuhkan musim dingin, dalam pemeliharaan, bisa disiasati dengan meningkatkan kelembaban dan mengurangi pemanasan sehingga suhu menjadi turun. Suhu untuk pembiakan sekitar 59-63’F (sekitar 15-17’C), suhu ini harus dipertahankan selama sekitar 2-3 bulan. Setelah itu, suhu secara bertahap dinaikkan kembali.
Seekor betina dapat mengalami 1-3 kali masa bertelur setiap tahun dengan 2-14 butir telur setiap peneluran. Telur sebaiknya diinkubasi, suhu di inkubator dijaga agar tetap dalam kisaran 80-91’F ( sekitar 26-32’C). Telur akan menetas setelah 90-166 hari


Sunday, 18 December 2016

Pancake Tortoise (Malacochersus tornieri)



Jenis kura-kura darat ini memiliki cangkang datar. Spesies ini berasal dari Tanzania dan Kenya. Nama ‘Pancake’ diambil dari bentuk cangkangnya yang datar bagaikan pancake.

Ukurannya cangkangnya pipih dan datar, panjangnya sekitar 17,8cm. Carapace milikinya biasanya berwarna cokelat, diselingi dengan berbagai pola garis. Cangkangnya ini sangat fleksibel, bisa menjadi pipih agar dia bisa melewati celah-celah bebatuan. Jenis ini hanya bertelur sekali dalam setahun dan biasanya hanya menelurkan sebutir telur.

Hewan ini termasuk dalam daftar Apendix II di Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora, yang melarangkan perdagangan impor spesies ini. Kenya memberlakukan larangan untuk melakukan ekspor terhadap spesies ini, kecuali telah mendapat izin tertulis dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam. Tanzania juga melindungi spesies ini di bawah perintah Wildlife Conservation (National Game). CITES juga memberlakukan pembatasan jumlah spesies ini yang dapat diekspor, sementara Uni Eropa memberlakukan larangan ekspor atas spesies ini. Namun tetap saja perdagangan atas spesies ini tetap dilakukan para anggota Uni Eropa.

Thursday, 1 December 2016

Elongated Tortoise (Indotestudo elongata)



Merupakan spesies kura-kura darat yang ditemukan di Asia Tenggara. Spesies ini dulu biasanya diimpor besar-besaran. Sekarang pun spesies ini masih diimpor, namun tidak dalam jumlah besar. Hal ini kemungkinan karena spesies yang diimpor ini datang dari hutan yang habitatnya terinfeksi parasit ataupun sulit bagi spesies ini untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Karena itu, hewan-hewan yang diimpor ini kurang mendapat banyak peminat meskipun diimpor secara besar-besaran.
Panjang hewan ini bisa mencapai 30cm dengan berat 3,5kg. Betina biasanya lebih besar dari jantan dan memiliki carapace yang lebih bulat disbanding jantan. Jantan memiliki lekukan/cekungan pada plastron, sedangkan betina hanya memiliki plastron datar. Cakar milik betina biasanya lebih panjang dan lebih melengkung dibandingkan jantan, kemungkinan untuk mempermudah betina membuat sarang.
Spesies ini dapat ditemukan di Nepal, Bangladest, India, Burma (Myanmar), Laos, Thailand (Phuket), Kamboja, Vietnam, Malaysia Barat,  dan Cina Selatan.
Spesies ini merupakan spesies tropis, dan tak mampu bertahan hidup di iklim yang dingin. Hewan-hewan yang diekspor ke Eropa atau Amerika Utara biasanya akan menderita dan mati.


VARANUS PRASINUS




Status konservasi : CITES Appendix II (CITES)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan          : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Sauropsida
Order               : Squamata
Subordo          : Lacertilia
Keluarga          : Varanidae
Genus              : Varanus
Subgenus         : Euprepiosaurus
Spesies            : V. prasinus
Nama binomial:Varanus prasinus Schlegel, 1839

Peta yang menunjukkan distribusi Varanus prasinus, ditemukan di seluruh Papua Nugini dan beberapa pulau di Selat Torres.
Distribusi monitor pohon zamrud, ditampilkan dalam warna merah.
Monitor pohon zamrud (Varanus prasinus) atau monitor pohon hijau, adalah kecil dan menengah arboreal biawak. Hal ini dikenal dengan warna yang tidak biasa, yang terdiri dari warna dari hijau ke biru kehijauan, atasnya dengan gelap, melintang punggung banding. Warna ini membantu kamuflase di habitat arboreal nya. [2] Warnanya juga membuat monitor pohon zamrud yang sangat dimanfaatkan untuk perdagangan hewan peliharaan dan disimpan di kebun binatang sama.
Taksonomi
V. prasinus pertama kali digambarkan sebagai monitor viridis oleh John Edward Gray pada tahun 1831; Namun, holotype asli Gray (RMNH 4812 di Natural History Museum Nasional di Leiden) adalah hilang dan spesies itu redescribed oleh Schlegel delapan tahun kemudian sebagai V. prasinus menggunakan spesimen ditemukan. Nama generik Varanus berasal dari bahasa Arab waral kata (ŁˆŲ±Ł„), yang diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai “memantau”. nama khusus Its, prasinus, adalah Latin untuk warna hijau.
V. prasinus adalah anggota dari subgenus Euprepiosaurus. Hal ini berkaitan erat dengan beberapa spesies arboreal lainnya; bila dikombinasikan, ini sering disebut sebagai V. prasinus kelompok spesies. Selain V. prasinus, kelompok spesies ini, yang anggotanya semua allopatric, termasuk V. beccarii (Kepulauan Aru), V. boehmei (Pulau Waigeo), V. bogerti (D’Entrecasteaux Archipelago), V. keithhornei (Cape York Peninsula), V. kordensis (Pulau Biak), V. macraei (Batanta Island), V. reisingeri (Pulau Misool) dan V. telenesetes (Rossel Island).
Perkembangan evolusi
Perkembangan evolusi V. prasinus dimulai dengan genus Varanus, yang berasal di Asia sekitar 40 juta tahun yang lalu dan bermigrasi ke Australia dan kepulauan Indonesia sekitar 15 juta tahun yang lalu.
Distribusi
Monitor pohon zamrud dan kerabat dekat mereka dapat ditemukan di New Guinea, serta beberapa pulau yang berdekatan, dan utara Selat Torres Kepulauan. Monitor pohon hijau dilaporkan berkembang di lingkungan dataran rendah, termasuk hutan cemara tropis , rawa sawit dan perkebunan kakao.
Deskripsi
Emerald pohon monitor di Kebun Binatang Bristol
Monitor pohon zamrud adalah sekitar 75-100 cm (30-39 in) panjang dengan tubuh langsing yang membantu mendukung dirinya pada cabang yang sempit. Menggunakan ekor dpt memegang dan cakar panjang untuk cabang pegangan. Tidak seperti varanids lainnya, monitor ini membela ekornya daripada memukul dengan itu untuk pertahanan ketika terancam. telapak kaki dari zamrud pohon memantau telah diperbesar skala yang membantu kadal saat mendaki.
Ekologi
Ketika terancam, pohon memantau zamrud akan melarikan diri melalui vegetasi atau menggigit jika terpojok. Ini adalah salah satu dari beberapa monitor sosial, hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari laki-laki yang dominan, beberapa perempuan, dan beberapa laki-laki dan remaja lainnya.
Diet
Diet zamrud pohon monitor terdiri dari pohon-tinggal arthropoda besar, seperti katydids, tongkat serangga, kecoa, kumbang, lipan, laba-laba, kepiting, burung, dan mamalia kecil. Sebelum menelan tongkat serangga, kadal merobek kaki [9] spesimen Captive merobek anggota badan tikus sebelum makan mereka.; sebagai akibatnya, mereka mampu menelan mamalia dari ukuran yang cukup besar: A 135-g kadal didokumentasikan sebagai makan 40 g tikus, hampir sepertiga ukurannya.
Reproduksi
Cengkeraman terdiri dari hingga lima telur, masing-masing seberat 10,5-11,5 g (0,37-0,41 oz) dan berukuran sekitar 2 sebesar 4,5 cm (0,79 oleh 1,77 di). Sebanyak tiga cengkeraman diletakkan sepanjang tahun; cengkeraman telah diletakkan oleh tawanan pada bulan Januari, Maret, April, November, dan Desember.

Monitor pohon zamrud betina bertelur di sarang rayap arboreal. Telur menetas antara 160 dan 190 hari kemudian, biasanya dari bulan Juni sampai November, setelah itu muda makan rayap dan telur rayap dalam hitungan menit menetas. kematangan seksual dicapai dalam waktu sekitar satu tahun.

BIAWAK / VARANUS

1. Klasifikasi Biawak
Klasifikasi ilmiah dari biawak adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Reptilia
Ordo                : Squamata
Famili             : Varanidae
Genus              : Varanus
Spesies            : Biawak kuning (Varanus melinus) atau quince lizard monitor, Biawak ekor biru (Varanus doreanus) atau blue tail lizard monitor, dan Biawak dumeril (Varanus dumerilii) atau Brown Rough Necked, dumeril’s monitor.
         Biawak merupakan hewan yang masuk dalam golongan kadal besar, dalam suku biawak-biawakan (varanidae). Di Indonesia terdapat banyak jenis biawak, tiga diantaranya adalah biawak kuning (Varanus melinus), biawak ekor biru (Varanus doreanus), dan biawak dumeril (Varanus dumerilii).
2. Morfologi
Biawak merupakan jenis kadal terbesar. Salah satu jenis biawak terbesar yang dapat ditemukan di Indonesia adalah komodo (Varanus komodoensis). Auffenberg (1981a) diacu dalam Bennet (1998) mengatakan biawak terkecil yang ditemukan adalah Varanus brevicauda dengan ukuran panjang kurang lebih 23 cm dan berat 20 g. Ditemukan juga biawak air asia (Varanus salvator) terpanjang di Sri lanka dengan panjang 321 cm.          Ukuran tubuh biawak menunjukkan variasi yang banyak dibanding famili dari satwa lain (Pianka 1995) diacu dalam Bennet (1998). Famili yang termasuk dari dua jenis biawak yang berukuran besar yaitu Varanus komodoensis dan biawak terbesar yang pernah ada Megalinia prisca (Bennett 1998).
Biawak kuning (Varanus melinus) adalah dari subgenera Euprepiosaurus, berdekatan dengan spesies Varanus indicus tetapi mudah dibedakan dari warna kuningnya. Panjang total dari spesies ini sekitar 80 – 120 cm. Biawak kuning memiliki ciri-ciri fisik badan berwarna kuning, lidah berwarna pink, bagian leher berwarna hitam dengan kepala batik
3. Habitat dan Makanan
         Habitat adalah suatu daerah yang merupakan kawasan yang terdiri dari berbagai komponen fisik dan biotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup dan berkembangbiak (Alikodra 1990). Biawak melakukan aktivitas di hutan rawa, karena pada tipe habitat ini biawak lebih mudah menjumpai mangsa yang sedang melakukan aktivitas mencari makan dan minum di sekitar daerah perairan (Iyai dan Pattiselano 2005).
         Biawak merupakan satwa predator, yaitu satwa pemangsa atau pemakan daging (karnivora)Menurut Bennet (1998) biawak memakan serangga, kerang, dan sisa-sisa ikan dari biawak dewasa, sedangkan biawak dewasa memakan ular, penyu, telur dan anak buaya, burung, katak, tikus, kera, rusa kecil, bangkai hewan dan bangkai manusia. Shine et al. (1998) menyatakan bahwa biawak memangsa jenis-jenis vertebrata seperti kucing, tikus, ayam dan jenis invertebrata seperti serangga dan kepiting.
         Jenis biawak kuning wilayah penyebarannya di kepulauan Maluku, Pulau Obi dan Pulau Sula dengan habitat hutan arboreal atau semi terestrial. Jenis makanan dari biawak kuning adalah tikus dan serangga (Anonim IV 2010). Biawak ekor biru tersebar di daerah timur yaitu Papua Nugini dan Australia, dan umumnya habitatnya berupa hutan terestrial. Jenis makanan biawak ekor biru adalah serangga, tikus, dan ikan (Anonim III 2010). Biawak dumeril tersebar di Semenanjung Malaysia dan pulau-pulau besar di Indonesia. Biawak dumeril hidup di habitat dataran rendah dan mangrove. Jenis makanan untuk biawak dumeril antara lain serangga, kepiting, ikan, telur, mamalia kecil dan burung (Anonim VII 2010).
4. Perilaku
          Perilaku merupakan salah satu ekspresi yang ditunjukkan oleh satwa, terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya baik itu internal maupun eksternal (Suratmo 1979). Terdapat beberapa perbedaan sifat perilaku pada satwa yang dipelihara dan satwa liar. Perilaku dikelompokkan menjadi beberapa pola perilaku utama oleh Scott’s (1950) dalam Lehner (1979), yaitu :
1. Perilaku makan dan minum (ingestive behaviour)
2. Perilaku mencari tempat berlindung (shelter seeking)
3. Perilaku bertentangan (agonistic behaviour)
4. Perilaku memelihara (epimeletic behaviour)
5. Perilaku ingin dipelihara (et-epimeletic behaviour)
6. Perilaku meniru (allelomimetic behaviour)
7. Perilaku membuang kotoran (eliminative behaviour)
8. Perilaku memeriksa (investigate behaviour)
        Bentuk perilaku biawak yang sudah menjadi rutinitas harian adalah berjemur (basking). Menurut Gumilang (2002) basking dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.30-10.00 WIB dan menjelang sore hari pada pukul 15.30-17.30 WIB dengan lama waktu rata-rata berjemur 87 menit.
         Menurut Bennet (1998), biawak biasanya tidak bersosialisasi dengan binatang lain. Biawak mempunyai kemampuan untuk mendeteksi kehadiran biawak lain dengan mencium bau yang ditinggalkan. Kegiatan berkelahi dapat juga merupakan suatu cara untuk menguji kekuatan biawak tanpa menimbulkan cedera yang serius terutama akibat gigitan.
5. Status
         Biawak kuning, biawak ekor biru dan biawak dumeril termasuk dalam daftar CITES. CITES atau singkatan dari Convention on International Trade in Endangered Species, adalah konferensi yang membahas mengenai status perlindungan satwa di dalam perdagangan. Status biawak kuning, biawak ekor biru, dan biawak dumeril masuk ke dalam kategori Appendiks II, yang artinya pemanfaatan hanya boleh dilakukan dari hasil penangkaran, dan pengambilan di alam jumlahnya dibatasi dengan kuota tertentu.

          Kurang lebih 10 juta berbagai jenis reptil dibunuh untuk dimanfaatkan kulit dan dagingnya yang dipercaya masyarakat dapat dijadikan sebagai obat. Indonesia merupakan salah satu pengekspor kulit reptil yaitu 83% dari kebutuhan kulit dunia dan 75% produk kulit tersebut berasal dari Kalimantan dan Sumatera (Endelen 1998, diacu dalam Gumilang 2001

Wednesday, 30 November 2016

Radiated Tortoise (Astrochelys radiata)



Merupakan spesies kura-kura darat yang relative besar di Pulau Madagaskar. Spesies ini dikenal dengan nama Sokake di Madagaskar. Spesies ini dianggap kebanyakan orang sebagai satu-satunya spesies yang terindah di antara spesies-spesies kura-kura darat lainnya. Spesies ini merupakan jenis pet yang terkenal eksotik.
Panjang carapace dari spesies ini dapat mencapai 41cm dengan berat 16kg. Sang jantan dapat dikenali dengan ekornya yang lebih panjang dari pada betina.

Karena keindahannya, populasi spesies ini semakin menipis. Diduga, 45000 spesies ini dibunuh setiap tahunnya sebagai makanan. Selain itu, keindahan spesies ini membuatnya sering diperdagangkan secara illegal. Karena itu spesies ini kini menjadi spesies yang dilindungi di dunia

GOPHER TORTOISE (kura-kura darat gopher)



Berasal dari tenggara Amerika Serikat. Spesies ini memiliki carapace yang panjangnya berkisar antara 20-30cm, dengan tinggi mencapai 15-37cm. Berat tubuhnya berkisar antara 2-6kg.
Spesies ini merupakan satu dari tiga spesies kura-kura darat yang merupakan penggali liang. Liang yang digali spesies ini dapat mencapai lebih dari 50ft dalamnya, tetapi biasanya hanya berkisar antara 15-18ft.
Gopher bertelur hanya sekali dalam setahun. Biasanya sang betina hanya menghasilkan 5-8 butir telur di sarangnya. Spesies ini mengerami telurnya sekitar 60-90 hari dengan suhu 88°F.

Di Negara bagian Florida, Gopher terdaftar sebagai spesies yang terancam punah. Kepemilikan Gopher di Negara bagian tersebut harus memiliki izin resmi. Sedangkan di Alabama, Mississippi, dan Lousiana, spesies ini sudah tercatat dalam daftar terancam punah.

DESERT TOTOISE (kura-kura darat amerika)

Spesies ini berasal dari Gurun Mojave dan Gurun Sonoran, yang terletak di barat daya Amerika Serikat, barat laut Meksiko. Spesies ini kini tersebar di sebelah barat Arizona, tenggara California, selatan Nevada, dan sebelah barat daya Utah.

Panjang usianya berkisar antara 50 hingga 80 tahun. Pertumbuhan spesies ini lambat dan tingkat reproduktifitasnya rendah. Ukuran dari spesies ini berkisar antara 25-36cm dan mencapai berat sekitar 0,2-5kg. Spesies ini pun termasuk dalam daftar yang dilindungi dan tidak boleh dibawa melintasi batas Negara (kecuali memperoleh izin).



KURA KURA GALAPAGOS / galapagos tortois



Kura kura Galapagos adalah kura kura terbesar di dunia yang masih hidup. Kura kura Galapagos dapat memiliki panjang hingga 1,2 meter dan berat mencapai 300 kg. Dapat hidup hingga usia 150 tahun. Tetapi, karena beratnya, sebagaimana umumnya kura-kura darat, jenis kura-kura ini hanya dapat berjalan hanya mencapai sekitar 0,5 km per jam. 
Kura kura Galapagos pertama kali didokumentasikan oleh ilmuwan terkenal Charles Darwin ketika ia menginjakkan kaki di Pulau Galapagos beberapa abad lalu. Ya, kura-kura terbesar di dunia ini dikenal dengan nama Kura-kura Galapagos. Kura kura Galapagos secara ilmiah dikenal dengan nama Chelonoidis nigra, merupakan salah satu dari dua jenis kura-kura terbesar di dunia yang hidup di era modern. Jenis lainnya adalah kura-kura yang hidup di Atol Aldabra, dikenal sebagai Kura-kura Aldabra (Aldabrachelys gigantea).

Habitat Kura kura Galapagos

Sesuai dengan namanya, kura-kura ini berasal dari Pulau Galapagos, Ekuador. Secara taksonomi, Kura kura Galapagos mengalami perubahan dalam beberapa dekade sejak ditemukan.  Saat ini, paling tidak ada 14 spesies, meskipun penelitian genetik terbaru telah menunjukkan terdapat perbedaan besar di antara beberapa populasi di pulau yang sama . Dari 14 spesies tersebut, hanya sepuluh spesies yang masih ditemukan. Sisanya, 4 spesies, termasuk hewan punah. Keempat belas spesies tersebut mewakili 14 lokasi habitat yang berbeda di gugusan Pulau Galapagos. Masing-masing sebaran populasi kura-kura raksasa aslinya terdapat di pulau-pulau besar – Pulau EspaƱola, Fernandina, Floreana, Pinta, Pinzon, San Cristobal, Santa Cruz, Santa Fe, Santiago – serta lima gunung berapi besar di Pulau Isabela – Wolf, Darwin, Alcedo, Sierra negra, Cerro Azul.

Perilaku Kura kura Galapagos

Dibandingkan dengan manusia, Kura kura Galapagos layak disebut “malas” karena menghabiskan rata-rata 16 jam dalam sehari untuk beristirahat atau berdiam diri. Tingkat aktivitas mereka didorong oleh suhu lingkungan, ketersediaan pangan. Pada musim dingin, mereka aktif pada tengah hari, tidur di pagi. Pada musim panas, masa aktif mereka pagi serta sore hari, sementara siang beristirahat berusaha untuk berdiam diri di bawah naungan semak, berendam kubangan lumpur.
Kura kura Galapagos termasuk jenis hewan herbivora. Memakan tumbuhan terutama kaktus, rumput, buah-buahan. Mereka minum sejumlah besar air bila tersedia, kemudian menyimpannya dalam kandung kemih mereka untuk jangka waktu yang lama. Perilaku ini mirip seperti unta!
Kura kura Galapagos berkembang biak terutama selama musim panas (Januari-Mei), meskipun perilaku kawin dapat terlihat di sepanjang tahun. Selama musim dingin (Juni sampai November), kura-kura betina bermigrasi ke zona bersarang (umumnya di daerah yang lebih kering) untuk bertelur. Betina dapat meletakkan 1-4 sarang selama musim bertelur (Juni-Desember). Betina menggali lubang dengan kaki belakangnya, kemudian memungkinkan telur jatuh ke dalam sarang. Akhirnya menutup sarang dengan menguruk pasir menutupi sarang menggunakan kaki belakangnya. Seperti perilaku penyu.
Jumlah telur Kura kura Galapagos berkisar 2-7 untuk kura-kura betina dengan bentuk tempurung seperti pelana kuda. Sedangkan untuk kura kura galapagos betina dengan tempurung menjulang tinggi seperti kubah, jumlah telur antara 20-25 telur. Telur akan menetas setelah 110-175 hari. Masa inkubasi tergantung pada bulan saat bertelur. Jika bertelur di awal musim dingin, maka akan membutuhkan masa inkubasi lebih lama dibandingkan bertelur pada akhir musim dingin atau awal musim pans. Setelah menetas, tukik tetap berada di sarang selama beberapa minggu sebelum muncul keluar.

Komunikasi kura kura Galapagos

Kura kura Galapagos memiliki beberapa cara untuk berkomunikasi satu sama lain. Satu-satunya suara diketahui pada Kura kura Galapagos adalah suara mengerang oleh jantan ketika kawin. Mengerang secara periodik, terdengar mirip erangan suara sapi. Kura-kura betina tidak membuat vokalisasi sama sekali. Metode utama komunikasi kura-kura adalah perilaku. Seperti pada banyak spesies lainnya, mereka memiliki cara menyampaikan pesan untuk menunjukkan dominasi serta membela diri. Untuk menunjukkan dominasi dalam persaingan dengan kura-kura lain, jantan akan berdiri tegak, saling berhadapan dengan mulut membuka lebar, dan meregangkan leher setinggi mungkin. Kepala tertinggi hampir selalu “menang”, sementara yang kalah mundur, pergi.

Kura kura Galapagos terancam punah

Sebagaimana terjadi pada satwa liar memiliki keunikan, daya tarik, cantik, satwa langka, Kura kura Galapagos terancam oleh kerusakan habitat, perburuan, perdagangan ilegal. Perilaku demi mengejar keuntungan ekonomi semata. Kura-kura adalah spesies yang berhasil bertahan hidup sejak zaman dinosaurus, tetapi mengalami resiko kepunahan terbesar akibat perilaku manusia serakah. Memburu, mengambil mereka dari habitat demi alasan status sosial (gengsi karena kura-kura ini berharga mahal) atau kecintaan salah kaprah (memelihara satwa liar dengan alasan mencintai satwa tersebut).

Kura-kura Moncong Babi (Carettochelys insculpta)



Kerajaan          : Animalia.
Filum               : Chordata.
Kelas               : Reptilia.
Ordo                : Testudines.
Famili              : Carettochelyidae.
Genus              : Carettochelys.

Spesies            : Carettochelys insculpta 



Labi-labi Moncong Babi  merupakan salah satu reptil asli Indonesia dari famili Carettochelyidae. Keberadaannya di alam bebas semakin langka dan terancam punah. Ancaman terhadap kelestarian Labi-labi Moncong Babi (Carettochelys insculpta) lebih disebabkan oleh faktor perburuan liar untuk diperjualbelikan (jual beli hewan langka). Padahal Labi-labi Moncong Babi merupakan salah satu hewan yang dilindungi di Indonesia.

Labi-labi Moncong Babi kerap disebut juga sebagai kura-kura, meskipun sebenarnya penyebutan tersebut kurang tepat (baca : Perbedaan Kura-Kura, Penyu, dan Bulus). Nama latin reptil ini adalah Carettochelys insculpta Ramsay, 1886. Mempunyai beberapa nama sinonim seperti Carettochelys canni Artner, 2003; Carettochelys insculpta Wells, 2002; Carettochelys insculptus Ramsay, 1886. Dalam bahasa Inggris, reptil ini sibeut sebagai Pig-nosed Turtle, Fly River Turtle, New Guinea Plateless Turtle, Pig-nose Turtle, atau Pitted-shell Turtle.

Ciri fisik Labi-labi Moncong Babi mudah dikenali melalui bentuk hidup yang menyerupai hidup babi. Dari bentuk khas hidungnya tersebut, nama ‘moncong babi’ dan ‘pig nose’ melekat pada nama bulus ini. Panjang tubuhnya antara 46-70 cm dengan berat rata-rata 22,5 kg. Karapasnya, seperti umumnya jenis bulus lainnya, tidak keras dan lebih menyerupai kulit tebal. Tekstur karapas (tempurung) kasar, dengan warna bervariasi mulai coklat hingga abu-abu gelap. Sedangkan plastron (bagian bawah tubuh, perut) berwarna krem. Bagian kaki berwarna abu-abu gelap. Bentuk kaki menyerupai sirip dengan masing-masing meiliki dua cakar yang kuat. Labi-labi Moncong Babi memiliki rahang yang kuat dan ekor pendek. Ukuran jantan umumnya lebih kecil dibanding betina, namun memiliki ekor yang lebih panjang dan tebal.

Labi-labi Moncong Babi, sebagaimana jenis bulus lainnya, lebih banyak menghabiskan waktunya di air. Bahkan jarang ditemui naik ke daratan. Mendiami air tawar dan muara air. Dapat ditemukan di daerah pantai berpasir atau di hamparan rumput rawa di sungai, anak sungai, danau, air payau, dan mata air panas.

Merupakan hewan omnivora yang memakan buah, daun, moluska, krustasea, hingga serangga. Mencapai usia matang (dewasa) saat berusia 18 tahun (betina) dan 16 tahun (jantan). Umur di habitat asli tidak diketahui namun yang di penangkaran mampu hidup hingga berusia 38 tahun. Masa berbiak Labi-labi Moncong Babi pada akhir musim kemarau.
Reptil dengan nama latin Carettochelys insculpta ini merupakan hewan asli Indonesia. Daerah sebarannya terbatas di Papua bagian selatan mulai dari Timika, Asmat, Mappi, Boven Digul, Yahukimo, hingga sebagian kecil wilayah Merauke. Selain itu dijumpai juga di sebagian Papua Nugini bagian selatan dan Australia bagian utara.
Labi-labi Moncong Babi (Pig-nosed Turtle) menjadi salah satu reptil langka dan terancam kelestariannya di Indonesia. Jumlah populasi pastinya tidak diketahui, namun diperkirakan mengalami penurunan populasi yang drastis. Ancaman terhadap utama terhadap kelestarian reptil ini adalah perburuan liar untuk diperdagangkan baik sebagai hewan peliharaan ataupun dikonsumsi daging dan telurnya. Jenis bulus ini merupakan salah satu kura-kura yang paling banyak dieksploitasi dan diselundupkan ke luar negeri. Selain itu juga terancaman akibat dari kerusakan habitat.
Padahal Labi-labi Moncong Babi (Carettochelys insculpta) merupakan salah satu hewan langka dan dilindungi di Indonesia. Daftar Merah IUCN memasukkan spesies ini sebagai Vulnerable (Rentan). CITES pun mendaftarnya dalam daftar Appendix II yang artinya hanya boleh diperdagangkan secara internasional dengan pengawasan khusus dan ketat. Sedangkan di Indonesia, Labi-labi Moncong Babi menjadi salah satu hewan yang dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999 dan UU Nomor 1990.
Dengan statusnya yang dilindungi, seharusnya perburuan liar Labi-labi Moncong Babi (Carettochelys insculpta) tidak diperbolehkan. Termasuk memperjualbelikan (perdagangan) dan memelihara kura-kura air tawar ini yang diambil dari alam liar. Perdagangan hanya bisa dilakukan pada individu yang dihasilkan dari penangkaran resmi. Sehingga bagi pemelihara kura-kura bermoncong babi ini harus memastikan bahwa reptil yang dipeliharanya betul-betul dihasilkan dari penangkaran dan bukannya ditangkap dari alam liar, tentunya dengan dibuktikan dokumen-dokumen yang sah.