Showing posts with label hewan peliharaan unik. Show all posts
Showing posts with label hewan peliharaan unik. Show all posts

Wednesday, 21 December 2016

Cara merawat monopohon

Sifat dan karakter ular mono pohon.
Seperti namanya, ular mono pohon hidup di pepohonan dengan cara melingkarkan tubuhnya membelit pepohonan. Di alam, ular mono pohon memakan cicak, kadal kecil, anakan hewan pengerat, serta bayi hewan lain. Ular mono pohon memiliki corak dan warna yang bervariasai antara coklat tua, kuning, hijau, kemerahan, bahkan ada juga yang berwarna hitam. Variasi corak warna inilah yang membuat mono pohon populer dipelihara sebagai ular peliharaan. Memelihara mono pohon juga relatif lebih gampang dibanding memelihara ular retic atau memelihara ballphyton. Ular mono pohon dewasa bisa mencapai panjang hingg 65 sentimeter. Ular mono pohon adalah ular nocturnal atau ular yang aktif pada malam hari. Seperti halnya ular dari keluarga Boa yang lain, ular mono pohon termasuk ular yang kalem. Mereka membunuh mangsanya dengan melilitkan tubuh di tubuh mangsanya.
Cara memelihara mono pohon sangat gampang. Berikut adalah beberapa tips cara memelihara mono pohon
Sebagai kandang, anda bisa menggunakan terarium berukuran standart dengan aksesoris ranting pohon di dalamnya karena mono pohon suka membelit di ranting pohon tersebut.
Jika tidak memiliki terarium, anda bisa menggunakan akuarium berukuran standart atau container box. Gunakan kertas koran bersih sebagai bedding kandang. Pastikan bahwa kandang mono pohon yang digunakan bersuhu ruangan, memiliki sirkulasi udara yang bagus (tidak pengap), dan selalu terjaga kebersihannya. Kandang terbaik untuk ular mono pohon adalah kandang atau terarium dengan dinding terbuat dari bahan jaring kawat berdiameter lubang kecil sehingga udara bisa bebas keluar masuk ke dalam kandang dan ular tidak bisa melepaskan diri. Oh ya, anda juga bisa menempatkan hiding box atau tempat bersembunyi bagi mono pohon anda di dalam kandang.
Suhu udara di dalam terarium hendaknya bersuhu ruangan, tidak terlalu dingin juga tidak terlalu panas. Untuk keperluan basking atau menjemur ular mono pohon, anda bisa menjemur ular mono pohon anda setiap hari selama 5 hingga 10 menit dibawah sinar matahari pagi (dibawah jam 9 pagi). Menjemur ular mono pohon berguna agar si ular bisa mendapatkan asupan kalsium dan sinar UVB dari sinar matahari serta bisa membunuh kuman dan bakteri yang penempel pada tubuh ular.
Sediakan air minum di dalam kandang agar ular bisa sesekali minum atau berendam di dalamnya, ganti air minum tersebut setiap hari.
cara memberi makan mono pohon adalah dengan memasukkan langsung pakan hidup ke dalam kandang. masukkan makanan mono pohon berupa cicak hidup ke dalam terarium, lalu tutup kandangnya dengan kain hitam dan buat lingkungan sekeliling kandang sepi agar mono pohon bisa berburu makanannya. Anda juga bisa memindahkan terarium ke tempat yang lebih tenang agar ular mono pohon anda bebas berburu.
Biasanya, ular mono pohon diberi makan setiap seminggu sekali atau sesuai dengan usia dan pola makannya.

Demikian adalah cara memelihara ular monop atau mono pohon yang penulis tulis berdasarkan pengalaman sendiri dalam memelihara mono pohon. Semoga artikel diatas bisa menjadi acuan anda dalammemelihara mono pohon. Saran dan kritik bisa anda tulis dibawah ini. Terima kasih. 

Monday, 19 December 2016

Tips Melatih kura kura



Tips melatih kura2 yang saya berikan berikut ini adalah 100% berdasarkan pengalaman saya, kalau menurut anda bagus, silakan ditiru dan kalau menurut anda tidak bagus, silakan dicuekin aja
Saya tahu benar bahwa banyak orang  yang berpendapat bahwa kura-kura itu seperti ikan, jadi cukup dilihat saja dan dikasih makan. Tidak boleh banyak dipegang karena di alam pun mereka jarang di pegang2…tapi menurut saya, semua mahluk hidup akan berlaku sesuai bagaimana kita memperlakukannya. Saat kura-kura menjadi peliharaan, hal yang wajar kalau kita menyanyanginya dan tidak hanya sekedar memberi makan. Bila  kita melakukan hal itu, kura-kura pun akan menganggap kita lebih dari sekadar tukang kasih makan
Alasan saya menulis post ini sangat sederhana…karena akhir2 ini saya sering sekali mendengar orang2 yang berkata kalau kura2 mereka ga mau dipegang dan cenderung ingin mengigit mereka. Kame dan Kroten sama sekali bukan pengigit dan luar biasa manisnya…saya sampai terheran-heran jika mendengar  ada yang bilang kura2nya  galak banget.
Nah…mari kita mulai langkah2 membuat kura2 anda menjadi jinak dan penurut.
1.         Berikan nama pada kura-kura anda!
Memang benar kalo mereka cuma kura-kura,mahluk berdarah dingin. Tapi… jangan pernah menganggap kalo mereka tidak butuh nama. Saya kenal paling tidak 4 orang yang tidak pernah memberikan nama pada kura-kura mereka, mereka pikir kura2 itu tak butuh nama *geleng-geleng kepala*
Mari saya buat sederhana saja… MEREKA PAHAM KOK DENGAN NAMA MEREKA!!!
2.         Panggilah kura-kura anda sesering mungkin
Hal ini perlu dilakukan agar mereka mengenal nama mereka. Saya paham betul kalau mereka tidaklah secerdas anjing dan kucing tapi mereka hampir selalu menanggapi panggilan saya.
3.         Bermainlah dengan mereka
Mungkin anda akan bingung, gimana caranya main dengan kura-kura? Yang paling mudah adalah dengan memberikan mereka sebuah benda yang mencurigakan lalu biarkan  mereka memeriksanya. Saat Kame masih bayi, saya suka mengelindingkan sesuatu ke arah dia, dia akanpanik dan lari.Tapi kemudian dia mendekat dan mencium2. Singkat kata, berikanlah sedikit waktu untuk bersama mereka.
4.         Sering-seringlah dipegang
Saya sangat tahu kalau orang2 akan sangat tidak setuju dengan pelatihan macam ini…Tapi…saya sudah melakukan hal ini sejak bertahun-tahun lamanya dan hasil yang saya dapat sangat menakjubkan.
Mereka jadi sangat terbiasa dengan saya,mereka bahkan seperti meminta untuk disentuh.
Saya membiarkan mereka memanjat kaki saya kapan pun mereka mau. Bahkan mereka tidak memasukkan kepala mereka saat saya mau menyentuh kepala  mereka. ketiduran di kaki sudah menjadi hal yang biasa.
5.         Suapi mereka sekali-sekali
Hal ini juga banyak ditentang orang karena mereka bisa saja malah menganggap jari kita adalah makanan. Untungnya, karena saya sudah sering menyuapi  (bahasa kerennya: Hand-Feed) mereka sejak kecil, jadi cara ini sangat berhasil.
Hand-feed memberikan sebuah ikatan khusus antara kura-kura dengan pemeliharanya.
6.         Biarkan mereka menjelajah rumah
Menurut saya, ini adalah cara yang baik untuk membuat mereka merasa bagian dari keluarga. Tidaklah adil jika membiarkan mereka melihat orang-orang mondar-mandir di depan mereka sementara mereka diam di dalam akuarium atau tempat berjemurnya. Sekal-kali biarkanlah mereka juga meregangkan kaki2nya di sekitar rumah.
Saya tdak takut kehilangan mereka karena saya tinggal memanggil nama mereka, merekapun akan muncul. Kalaupun tidak muncul, biasanya mereka sembunyi di tempat yang sama.Tapi ini sangat sulit bagi yang jarang melepas mereka, untuk yang pertama kali membiarkan mereka jalan-jalan…amati terus gerak gerik mereka!
7.         Ulangi perintah yang sama berkali-kali
Jika anda ingin mereka melakukan sesuatu…katakan lagi  dan lagi dan  lagi.
8.         Biarkan mereka tidur di samping tempat tidur sesekali
Hmmm… Ini mungkin tips paling gila yang pernah anda  dengar. Ini dapat menyebabkan anda kehilangan kura-kura anda, menurut beberapa orang.
Untungnya, saya belum pernah kehilangan satu pun dari mereka! Saya taruh mereka di atas selembar kain dan menutup mereka kembali dengan kain lain, seolah2 kasur dan  selimut. mereka akan bangun pada saat yang bersamaan dengan saya…dan setelah itu, hal menyenangkanpun terjadi…mereka akan mengikuti kemanapun saya pergi. saya suka sekali saat-saat seperti tu
Untuk yang pertama kali melakukan ini, yang perlu dilakukan adalah sedikit pencegahan…awalnya taruhlah mereka di dalam kotak,jadi kalau bangun duluan, mereka tidak lari kesana-kemari Lama-lama mereka akan bangun sama dengan kita.
Mungkin anda  pikir ini hal yang tidak biasa…tapi cobalah pikir lagi, banyak orang yang membiarkan anjing  dan kucingnya tidur di kasur mereka, lalu apa salahnya  kalo kura-kura tidur dekat kita?
9.         Tunjukkan rasa sayang kita pada mereka
Tips yang satu ini adalah yang paling penting. Jangan hanya memandang mereka dan memberi makan. Anda  perlu sekali-sekali berbicara dengan mereka, menghabiskan waktu dengan mereka …intinya, tunjukkan kalo kita sayang dengan mereka.
10.     Ambil foto mereka sebanyak mungkin (pelatihan ekstra)

Hehe…pelatihan ini cuma untuk membuat mereka terbiasa dengan kamera dan menjadi kura-kura narsis

Thursday, 1 December 2016

BIAWAK / VARANUS

1. Klasifikasi Biawak
Klasifikasi ilmiah dari biawak adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Reptilia
Ordo                : Squamata
Famili             : Varanidae
Genus              : Varanus
Spesies            : Biawak kuning (Varanus melinus) atau quince lizard monitor, Biawak ekor biru (Varanus doreanus) atau blue tail lizard monitor, dan Biawak dumeril (Varanus dumerilii) atau Brown Rough Necked, dumeril’s monitor.
         Biawak merupakan hewan yang masuk dalam golongan kadal besar, dalam suku biawak-biawakan (varanidae). Di Indonesia terdapat banyak jenis biawak, tiga diantaranya adalah biawak kuning (Varanus melinus), biawak ekor biru (Varanus doreanus), dan biawak dumeril (Varanus dumerilii).
2. Morfologi
Biawak merupakan jenis kadal terbesar. Salah satu jenis biawak terbesar yang dapat ditemukan di Indonesia adalah komodo (Varanus komodoensis). Auffenberg (1981a) diacu dalam Bennet (1998) mengatakan biawak terkecil yang ditemukan adalah Varanus brevicauda dengan ukuran panjang kurang lebih 23 cm dan berat 20 g. Ditemukan juga biawak air asia (Varanus salvator) terpanjang di Sri lanka dengan panjang 321 cm.          Ukuran tubuh biawak menunjukkan variasi yang banyak dibanding famili dari satwa lain (Pianka 1995) diacu dalam Bennet (1998). Famili yang termasuk dari dua jenis biawak yang berukuran besar yaitu Varanus komodoensis dan biawak terbesar yang pernah ada Megalinia prisca (Bennett 1998).
Biawak kuning (Varanus melinus) adalah dari subgenera Euprepiosaurus, berdekatan dengan spesies Varanus indicus tetapi mudah dibedakan dari warna kuningnya. Panjang total dari spesies ini sekitar 80 – 120 cm. Biawak kuning memiliki ciri-ciri fisik badan berwarna kuning, lidah berwarna pink, bagian leher berwarna hitam dengan kepala batik
3. Habitat dan Makanan
         Habitat adalah suatu daerah yang merupakan kawasan yang terdiri dari berbagai komponen fisik dan biotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup dan berkembangbiak (Alikodra 1990). Biawak melakukan aktivitas di hutan rawa, karena pada tipe habitat ini biawak lebih mudah menjumpai mangsa yang sedang melakukan aktivitas mencari makan dan minum di sekitar daerah perairan (Iyai dan Pattiselano 2005).
         Biawak merupakan satwa predator, yaitu satwa pemangsa atau pemakan daging (karnivora)Menurut Bennet (1998) biawak memakan serangga, kerang, dan sisa-sisa ikan dari biawak dewasa, sedangkan biawak dewasa memakan ular, penyu, telur dan anak buaya, burung, katak, tikus, kera, rusa kecil, bangkai hewan dan bangkai manusia. Shine et al. (1998) menyatakan bahwa biawak memangsa jenis-jenis vertebrata seperti kucing, tikus, ayam dan jenis invertebrata seperti serangga dan kepiting.
         Jenis biawak kuning wilayah penyebarannya di kepulauan Maluku, Pulau Obi dan Pulau Sula dengan habitat hutan arboreal atau semi terestrial. Jenis makanan dari biawak kuning adalah tikus dan serangga (Anonim IV 2010). Biawak ekor biru tersebar di daerah timur yaitu Papua Nugini dan Australia, dan umumnya habitatnya berupa hutan terestrial. Jenis makanan biawak ekor biru adalah serangga, tikus, dan ikan (Anonim III 2010). Biawak dumeril tersebar di Semenanjung Malaysia dan pulau-pulau besar di Indonesia. Biawak dumeril hidup di habitat dataran rendah dan mangrove. Jenis makanan untuk biawak dumeril antara lain serangga, kepiting, ikan, telur, mamalia kecil dan burung (Anonim VII 2010).
4. Perilaku
          Perilaku merupakan salah satu ekspresi yang ditunjukkan oleh satwa, terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya baik itu internal maupun eksternal (Suratmo 1979). Terdapat beberapa perbedaan sifat perilaku pada satwa yang dipelihara dan satwa liar. Perilaku dikelompokkan menjadi beberapa pola perilaku utama oleh Scott’s (1950) dalam Lehner (1979), yaitu :
1. Perilaku makan dan minum (ingestive behaviour)
2. Perilaku mencari tempat berlindung (shelter seeking)
3. Perilaku bertentangan (agonistic behaviour)
4. Perilaku memelihara (epimeletic behaviour)
5. Perilaku ingin dipelihara (et-epimeletic behaviour)
6. Perilaku meniru (allelomimetic behaviour)
7. Perilaku membuang kotoran (eliminative behaviour)
8. Perilaku memeriksa (investigate behaviour)
        Bentuk perilaku biawak yang sudah menjadi rutinitas harian adalah berjemur (basking). Menurut Gumilang (2002) basking dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.30-10.00 WIB dan menjelang sore hari pada pukul 15.30-17.30 WIB dengan lama waktu rata-rata berjemur 87 menit.
         Menurut Bennet (1998), biawak biasanya tidak bersosialisasi dengan binatang lain. Biawak mempunyai kemampuan untuk mendeteksi kehadiran biawak lain dengan mencium bau yang ditinggalkan. Kegiatan berkelahi dapat juga merupakan suatu cara untuk menguji kekuatan biawak tanpa menimbulkan cedera yang serius terutama akibat gigitan.
5. Status
         Biawak kuning, biawak ekor biru dan biawak dumeril termasuk dalam daftar CITES. CITES atau singkatan dari Convention on International Trade in Endangered Species, adalah konferensi yang membahas mengenai status perlindungan satwa di dalam perdagangan. Status biawak kuning, biawak ekor biru, dan biawak dumeril masuk ke dalam kategori Appendiks II, yang artinya pemanfaatan hanya boleh dilakukan dari hasil penangkaran, dan pengambilan di alam jumlahnya dibatasi dengan kuota tertentu.

          Kurang lebih 10 juta berbagai jenis reptil dibunuh untuk dimanfaatkan kulit dan dagingnya yang dipercaya masyarakat dapat dijadikan sebagai obat. Indonesia merupakan salah satu pengekspor kulit reptil yaitu 83% dari kebutuhan kulit dunia dan 75% produk kulit tersebut berasal dari Kalimantan dan Sumatera (Endelen 1998, diacu dalam Gumilang 2001

Wednesday, 30 November 2016

Radiated Tortoise (Astrochelys radiata)



Merupakan spesies kura-kura darat yang relative besar di Pulau Madagaskar. Spesies ini dikenal dengan nama Sokake di Madagaskar. Spesies ini dianggap kebanyakan orang sebagai satu-satunya spesies yang terindah di antara spesies-spesies kura-kura darat lainnya. Spesies ini merupakan jenis pet yang terkenal eksotik.
Panjang carapace dari spesies ini dapat mencapai 41cm dengan berat 16kg. Sang jantan dapat dikenali dengan ekornya yang lebih panjang dari pada betina.

Karena keindahannya, populasi spesies ini semakin menipis. Diduga, 45000 spesies ini dibunuh setiap tahunnya sebagai makanan. Selain itu, keindahan spesies ini membuatnya sering diperdagangkan secara illegal. Karena itu spesies ini kini menjadi spesies yang dilindungi di dunia

GOPHER TORTOISE (kura-kura darat gopher)



Berasal dari tenggara Amerika Serikat. Spesies ini memiliki carapace yang panjangnya berkisar antara 20-30cm, dengan tinggi mencapai 15-37cm. Berat tubuhnya berkisar antara 2-6kg.
Spesies ini merupakan satu dari tiga spesies kura-kura darat yang merupakan penggali liang. Liang yang digali spesies ini dapat mencapai lebih dari 50ft dalamnya, tetapi biasanya hanya berkisar antara 15-18ft.
Gopher bertelur hanya sekali dalam setahun. Biasanya sang betina hanya menghasilkan 5-8 butir telur di sarangnya. Spesies ini mengerami telurnya sekitar 60-90 hari dengan suhu 88°F.

Di Negara bagian Florida, Gopher terdaftar sebagai spesies yang terancam punah. Kepemilikan Gopher di Negara bagian tersebut harus memiliki izin resmi. Sedangkan di Alabama, Mississippi, dan Lousiana, spesies ini sudah tercatat dalam daftar terancam punah.

DESERT TOTOISE (kura-kura darat amerika)

Spesies ini berasal dari Gurun Mojave dan Gurun Sonoran, yang terletak di barat daya Amerika Serikat, barat laut Meksiko. Spesies ini kini tersebar di sebelah barat Arizona, tenggara California, selatan Nevada, dan sebelah barat daya Utah.

Panjang usianya berkisar antara 50 hingga 80 tahun. Pertumbuhan spesies ini lambat dan tingkat reproduktifitasnya rendah. Ukuran dari spesies ini berkisar antara 25-36cm dan mencapai berat sekitar 0,2-5kg. Spesies ini pun termasuk dalam daftar yang dilindungi dan tidak boleh dibawa melintasi batas Negara (kecuali memperoleh izin).



Kura-kura Moncong Babi (Carettochelys insculpta)



Kerajaan          : Animalia.
Filum               : Chordata.
Kelas               : Reptilia.
Ordo                : Testudines.
Famili              : Carettochelyidae.
Genus              : Carettochelys.

Spesies            : Carettochelys insculpta 



Labi-labi Moncong Babi  merupakan salah satu reptil asli Indonesia dari famili Carettochelyidae. Keberadaannya di alam bebas semakin langka dan terancam punah. Ancaman terhadap kelestarian Labi-labi Moncong Babi (Carettochelys insculpta) lebih disebabkan oleh faktor perburuan liar untuk diperjualbelikan (jual beli hewan langka). Padahal Labi-labi Moncong Babi merupakan salah satu hewan yang dilindungi di Indonesia.

Labi-labi Moncong Babi kerap disebut juga sebagai kura-kura, meskipun sebenarnya penyebutan tersebut kurang tepat (baca : Perbedaan Kura-Kura, Penyu, dan Bulus). Nama latin reptil ini adalah Carettochelys insculpta Ramsay, 1886. Mempunyai beberapa nama sinonim seperti Carettochelys canni Artner, 2003; Carettochelys insculpta Wells, 2002; Carettochelys insculptus Ramsay, 1886. Dalam bahasa Inggris, reptil ini sibeut sebagai Pig-nosed Turtle, Fly River Turtle, New Guinea Plateless Turtle, Pig-nose Turtle, atau Pitted-shell Turtle.

Ciri fisik Labi-labi Moncong Babi mudah dikenali melalui bentuk hidup yang menyerupai hidup babi. Dari bentuk khas hidungnya tersebut, nama ‘moncong babi’ dan ‘pig nose’ melekat pada nama bulus ini. Panjang tubuhnya antara 46-70 cm dengan berat rata-rata 22,5 kg. Karapasnya, seperti umumnya jenis bulus lainnya, tidak keras dan lebih menyerupai kulit tebal. Tekstur karapas (tempurung) kasar, dengan warna bervariasi mulai coklat hingga abu-abu gelap. Sedangkan plastron (bagian bawah tubuh, perut) berwarna krem. Bagian kaki berwarna abu-abu gelap. Bentuk kaki menyerupai sirip dengan masing-masing meiliki dua cakar yang kuat. Labi-labi Moncong Babi memiliki rahang yang kuat dan ekor pendek. Ukuran jantan umumnya lebih kecil dibanding betina, namun memiliki ekor yang lebih panjang dan tebal.

Labi-labi Moncong Babi, sebagaimana jenis bulus lainnya, lebih banyak menghabiskan waktunya di air. Bahkan jarang ditemui naik ke daratan. Mendiami air tawar dan muara air. Dapat ditemukan di daerah pantai berpasir atau di hamparan rumput rawa di sungai, anak sungai, danau, air payau, dan mata air panas.

Merupakan hewan omnivora yang memakan buah, daun, moluska, krustasea, hingga serangga. Mencapai usia matang (dewasa) saat berusia 18 tahun (betina) dan 16 tahun (jantan). Umur di habitat asli tidak diketahui namun yang di penangkaran mampu hidup hingga berusia 38 tahun. Masa berbiak Labi-labi Moncong Babi pada akhir musim kemarau.
Reptil dengan nama latin Carettochelys insculpta ini merupakan hewan asli Indonesia. Daerah sebarannya terbatas di Papua bagian selatan mulai dari Timika, Asmat, Mappi, Boven Digul, Yahukimo, hingga sebagian kecil wilayah Merauke. Selain itu dijumpai juga di sebagian Papua Nugini bagian selatan dan Australia bagian utara.
Labi-labi Moncong Babi (Pig-nosed Turtle) menjadi salah satu reptil langka dan terancam kelestariannya di Indonesia. Jumlah populasi pastinya tidak diketahui, namun diperkirakan mengalami penurunan populasi yang drastis. Ancaman terhadap utama terhadap kelestarian reptil ini adalah perburuan liar untuk diperdagangkan baik sebagai hewan peliharaan ataupun dikonsumsi daging dan telurnya. Jenis bulus ini merupakan salah satu kura-kura yang paling banyak dieksploitasi dan diselundupkan ke luar negeri. Selain itu juga terancaman akibat dari kerusakan habitat.
Padahal Labi-labi Moncong Babi (Carettochelys insculpta) merupakan salah satu hewan langka dan dilindungi di Indonesia. Daftar Merah IUCN memasukkan spesies ini sebagai Vulnerable (Rentan). CITES pun mendaftarnya dalam daftar Appendix II yang artinya hanya boleh diperdagangkan secara internasional dengan pengawasan khusus dan ketat. Sedangkan di Indonesia, Labi-labi Moncong Babi menjadi salah satu hewan yang dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999 dan UU Nomor 1990.
Dengan statusnya yang dilindungi, seharusnya perburuan liar Labi-labi Moncong Babi (Carettochelys insculpta) tidak diperbolehkan. Termasuk memperjualbelikan (perdagangan) dan memelihara kura-kura air tawar ini yang diambil dari alam liar. Perdagangan hanya bisa dilakukan pada individu yang dihasilkan dari penangkaran resmi. Sehingga bagi pemelihara kura-kura bermoncong babi ini harus memastikan bahwa reptil yang dipeliharanya betul-betul dihasilkan dari penangkaran dan bukannya ditangkap dari alam liar, tentunya dengan dibuktikan dokumen-dokumen yang sah.

SPINY SOFTSHELL (BULUS/LABI-LABI)

Bagi Sobat yang ingin menangkarkan bulus agar berhasil maka kita perlu mengetahui kebiasaan hidup mereka dialam bebas sehingga dengan demikian kita bisa memperlakukannya mereka layaknya hidupdalam alam liar. Tentu dengan harapan demikian labi-labi yang kita budidayakan akan beranak pinak dengan baik
Bulus atau juga sering disebut dengan nama labi-labi yang termasuk hewan reptil ini baik yang baru menetas maupun labi-labi yang sudah dewasa bernapas dengan paru-paru (pulmo).
Selain itu kebiasaan bulus yang perlu kita ketahui antara lain:

Kebiasaan makan
Labi-labi memakan ikan dan udang kecil di alam. Di kolam, labi-labi bisa diberikan pakan berupa cincangan ikan, pelet ikan hias atau diberi cincangan isi hewan ternak yang sudah disembelih.


Kebiasaan berkembang biak
Di alam, labi-labi umumnya berpijah antara Juli—Desember. Labi-labi berkembang biak dengan cara bertelur (ovivar). Setiap kali labi-labi bertelur mencapai 10-30 butir. Telur berwarna krem dengan diameter antara 2-3 cm. Telur-telur yang dikeluarkan ditimbun dalam tanah berpasir selama lebih kurang 45-50 hari pada suhu 25-30 derajat C.