Showing posts with label tortoise. Show all posts
Showing posts with label tortoise. Show all posts

Thursday, 1 December 2016

Elongated Tortoise (Indotestudo elongata)



Merupakan spesies kura-kura darat yang ditemukan di Asia Tenggara. Spesies ini dulu biasanya diimpor besar-besaran. Sekarang pun spesies ini masih diimpor, namun tidak dalam jumlah besar. Hal ini kemungkinan karena spesies yang diimpor ini datang dari hutan yang habitatnya terinfeksi parasit ataupun sulit bagi spesies ini untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Karena itu, hewan-hewan yang diimpor ini kurang mendapat banyak peminat meskipun diimpor secara besar-besaran.
Panjang hewan ini bisa mencapai 30cm dengan berat 3,5kg. Betina biasanya lebih besar dari jantan dan memiliki carapace yang lebih bulat disbanding jantan. Jantan memiliki lekukan/cekungan pada plastron, sedangkan betina hanya memiliki plastron datar. Cakar milik betina biasanya lebih panjang dan lebih melengkung dibandingkan jantan, kemungkinan untuk mempermudah betina membuat sarang.
Spesies ini dapat ditemukan di Nepal, Bangladest, India, Burma (Myanmar), Laos, Thailand (Phuket), Kamboja, Vietnam, Malaysia Barat,  dan Cina Selatan.
Spesies ini merupakan spesies tropis, dan tak mampu bertahan hidup di iklim yang dingin. Hewan-hewan yang diekspor ke Eropa atau Amerika Utara biasanya akan menderita dan mati.


Wednesday, 30 November 2016

DESERT TOTOISE (kura-kura darat amerika)

Spesies ini berasal dari Gurun Mojave dan Gurun Sonoran, yang terletak di barat daya Amerika Serikat, barat laut Meksiko. Spesies ini kini tersebar di sebelah barat Arizona, tenggara California, selatan Nevada, dan sebelah barat daya Utah.

Panjang usianya berkisar antara 50 hingga 80 tahun. Pertumbuhan spesies ini lambat dan tingkat reproduktifitasnya rendah. Ukuran dari spesies ini berkisar antara 25-36cm dan mencapai berat sekitar 0,2-5kg. Spesies ini pun termasuk dalam daftar yang dilindungi dan tidak boleh dibawa melintasi batas Negara (kecuali memperoleh izin).



KURA KURA LEOPARD TORTOISE

Leopard Tortoise (Geochelone pardalis), gampang banget dikenali karena bentuk badannya yang unik & juga pola di tempurungnya yang cantik.Tempurung kura kura ini sangat menonjol karena biasanya memiliki tinggi lebih dari setengah panjang tubuhnya. Nama ‘Leopard’ diberikan pada kura kura ini karena warna & pola pada tempurungnya yang menyerupai warna leopard. Leopard tortoise dewasa bisa mencapai berat 43 kilo tapi yang biasa ditemukan ‘hanya’ berkisar antara 10 hingga 15 kilo dengan panjang 40 hingga 50 cm.




Kura kura ini terdiri dari 2 subspecies, Geochelone pardalis pardalis dan Geochelone pardalis babcocki, dan hal yang paling membedakannya adalah pola tempurung kura kura muda. G. p. pardalis yang masih muda bisa dikenali dari bintik yang banyak di bagian tengah tempurungnya, sedangkan G. p. babcocki akan memiliki bermacam variasi dari tidak ada bintik, hanya satu bintik hingga satu bintik yang menyambung pada perbatasan tempurungnya. Tapi karakteristik ini tidak bisa dipakai untuk identifikasi yang pasti karena jangkauan luas dan populasi leopard tortoise yang tumpang tindih. Jadi untuk saat ini, hanya ada satu spesies kura-kura yang kenali sebagai Leopard Tortoise yaitu Geochelone pardalis.

KURA KURA GALAPAGOS / galapagos tortois



Kura kura Galapagos adalah kura kura terbesar di dunia yang masih hidup. Kura kura Galapagos dapat memiliki panjang hingga 1,2 meter dan berat mencapai 300 kg. Dapat hidup hingga usia 150 tahun. Tetapi, karena beratnya, sebagaimana umumnya kura-kura darat, jenis kura-kura ini hanya dapat berjalan hanya mencapai sekitar 0,5 km per jam. 
Kura kura Galapagos pertama kali didokumentasikan oleh ilmuwan terkenal Charles Darwin ketika ia menginjakkan kaki di Pulau Galapagos beberapa abad lalu. Ya, kura-kura terbesar di dunia ini dikenal dengan nama Kura-kura Galapagos. Kura kura Galapagos secara ilmiah dikenal dengan nama Chelonoidis nigra, merupakan salah satu dari dua jenis kura-kura terbesar di dunia yang hidup di era modern. Jenis lainnya adalah kura-kura yang hidup di Atol Aldabra, dikenal sebagai Kura-kura Aldabra (Aldabrachelys gigantea).

Habitat Kura kura Galapagos

Sesuai dengan namanya, kura-kura ini berasal dari Pulau Galapagos, Ekuador. Secara taksonomi, Kura kura Galapagos mengalami perubahan dalam beberapa dekade sejak ditemukan.  Saat ini, paling tidak ada 14 spesies, meskipun penelitian genetik terbaru telah menunjukkan terdapat perbedaan besar di antara beberapa populasi di pulau yang sama . Dari 14 spesies tersebut, hanya sepuluh spesies yang masih ditemukan. Sisanya, 4 spesies, termasuk hewan punah. Keempat belas spesies tersebut mewakili 14 lokasi habitat yang berbeda di gugusan Pulau Galapagos. Masing-masing sebaran populasi kura-kura raksasa aslinya terdapat di pulau-pulau besar – Pulau EspaƱola, Fernandina, Floreana, Pinta, Pinzon, San Cristobal, Santa Cruz, Santa Fe, Santiago – serta lima gunung berapi besar di Pulau Isabela – Wolf, Darwin, Alcedo, Sierra negra, Cerro Azul.

Perilaku Kura kura Galapagos

Dibandingkan dengan manusia, Kura kura Galapagos layak disebut “malas” karena menghabiskan rata-rata 16 jam dalam sehari untuk beristirahat atau berdiam diri. Tingkat aktivitas mereka didorong oleh suhu lingkungan, ketersediaan pangan. Pada musim dingin, mereka aktif pada tengah hari, tidur di pagi. Pada musim panas, masa aktif mereka pagi serta sore hari, sementara siang beristirahat berusaha untuk berdiam diri di bawah naungan semak, berendam kubangan lumpur.
Kura kura Galapagos termasuk jenis hewan herbivora. Memakan tumbuhan terutama kaktus, rumput, buah-buahan. Mereka minum sejumlah besar air bila tersedia, kemudian menyimpannya dalam kandung kemih mereka untuk jangka waktu yang lama. Perilaku ini mirip seperti unta!
Kura kura Galapagos berkembang biak terutama selama musim panas (Januari-Mei), meskipun perilaku kawin dapat terlihat di sepanjang tahun. Selama musim dingin (Juni sampai November), kura-kura betina bermigrasi ke zona bersarang (umumnya di daerah yang lebih kering) untuk bertelur. Betina dapat meletakkan 1-4 sarang selama musim bertelur (Juni-Desember). Betina menggali lubang dengan kaki belakangnya, kemudian memungkinkan telur jatuh ke dalam sarang. Akhirnya menutup sarang dengan menguruk pasir menutupi sarang menggunakan kaki belakangnya. Seperti perilaku penyu.
Jumlah telur Kura kura Galapagos berkisar 2-7 untuk kura-kura betina dengan bentuk tempurung seperti pelana kuda. Sedangkan untuk kura kura galapagos betina dengan tempurung menjulang tinggi seperti kubah, jumlah telur antara 20-25 telur. Telur akan menetas setelah 110-175 hari. Masa inkubasi tergantung pada bulan saat bertelur. Jika bertelur di awal musim dingin, maka akan membutuhkan masa inkubasi lebih lama dibandingkan bertelur pada akhir musim dingin atau awal musim pans. Setelah menetas, tukik tetap berada di sarang selama beberapa minggu sebelum muncul keluar.

Komunikasi kura kura Galapagos

Kura kura Galapagos memiliki beberapa cara untuk berkomunikasi satu sama lain. Satu-satunya suara diketahui pada Kura kura Galapagos adalah suara mengerang oleh jantan ketika kawin. Mengerang secara periodik, terdengar mirip erangan suara sapi. Kura-kura betina tidak membuat vokalisasi sama sekali. Metode utama komunikasi kura-kura adalah perilaku. Seperti pada banyak spesies lainnya, mereka memiliki cara menyampaikan pesan untuk menunjukkan dominasi serta membela diri. Untuk menunjukkan dominasi dalam persaingan dengan kura-kura lain, jantan akan berdiri tegak, saling berhadapan dengan mulut membuka lebar, dan meregangkan leher setinggi mungkin. Kepala tertinggi hampir selalu “menang”, sementara yang kalah mundur, pergi.

Kura kura Galapagos terancam punah

Sebagaimana terjadi pada satwa liar memiliki keunikan, daya tarik, cantik, satwa langka, Kura kura Galapagos terancam oleh kerusakan habitat, perburuan, perdagangan ilegal. Perilaku demi mengejar keuntungan ekonomi semata. Kura-kura adalah spesies yang berhasil bertahan hidup sejak zaman dinosaurus, tetapi mengalami resiko kepunahan terbesar akibat perilaku manusia serakah. Memburu, mengambil mereka dari habitat demi alasan status sosial (gengsi karena kura-kura ini berharga mahal) atau kecintaan salah kaprah (memelihara satwa liar dengan alasan mencintai satwa tersebut).

KURA KURA ALDABRA


Di habitat aslinya, kura-kura aldabra yang memiliki nama latin Aldabrachelys Gigantea hidup di padang rumput dan menghabiskan waktunya untuk mencari makan. Kura-kura aldabra adalah jenis kura-kura herbivora (pemakan tumbuhan), meski kadang-kadang juga memakan serangga, bangkai hewan-hewan kecil, dan kura-kura lain yang sudah mati.
Kura-kura aldabra adalah jenis kura-kura yang berumur panjang selain kura-kura galapagos. Umur kura-kura aldabra bisa mencapai 200 tahun. Secara fisik, kura-kura aldabra bisa dikenali dengan bentuk kaki yang kuat, leher yang panjang, serta bentuk tempurung yang berbentuk dome tinggi. 
Meski ada beberapa perbedaan, cara memelihara kura-kura aldabra relatif sama dengan cara memelihara sulcata. Dan berikut adalah cara memelihara kura-kura aldabra:

1.        kandang kura-kura aldabra.
tidak dibutuhkan kandang khusus untuk memelihara aldabra. anda bisa menggunakan akuarium atau container box sebagai kandang kura-kura aldabra. sebagai alas kandang (bidder), anda bisa menggunakan kertas koran yang bersih sebagai alas kandang kura-kura aldabra. Kandang aldabra sebaiknya dibersihkan setiap minggu sekali secara menyeluruh. Anda juga sebaiknya mengangkat kotoran kura-kura aldabra dari dalam kandang setiap hari.
2.        makanan kura-kura aldabra.
seperti yang sudah dikemukakan diatas, makanan kura-kura aldabra adalah tumbuh-tumbuhan dan sayur-sayuran. para penggemar kura-kura aldabra biasanya memberikan buah-buahan seperti apel dan pisang sebagai makanan aldabra. anda juga bisa memberikan pellet sayuran yang biasa dijual di toko makanan hewan tertentu. tempat minum bisa anda taruh di pojok kandang. air minum yang diberikan untuk kura-kura aldabra adalah jenis air mineral, dan ganti air minum setiap 3 hari sekali.

3.        cara merawat kura-kura aldabra.
tidak dibutuhkan perawatan khusus kura-kura aldabra. untuk menjaga kesehatannya, anda cukup menjemur kura-kura aldabra setiap minggu dibawah sinar matahari. lakukan penjemuran ini dibawah jam 9 pagi selama 10 menit.


Kura-kura Moncong Babi (Carettochelys insculpta)



Kerajaan          : Animalia.
Filum               : Chordata.
Kelas               : Reptilia.
Ordo                : Testudines.
Famili              : Carettochelyidae.
Genus              : Carettochelys.

Spesies            : Carettochelys insculpta 



Labi-labi Moncong Babi  merupakan salah satu reptil asli Indonesia dari famili Carettochelyidae. Keberadaannya di alam bebas semakin langka dan terancam punah. Ancaman terhadap kelestarian Labi-labi Moncong Babi (Carettochelys insculpta) lebih disebabkan oleh faktor perburuan liar untuk diperjualbelikan (jual beli hewan langka). Padahal Labi-labi Moncong Babi merupakan salah satu hewan yang dilindungi di Indonesia.

Labi-labi Moncong Babi kerap disebut juga sebagai kura-kura, meskipun sebenarnya penyebutan tersebut kurang tepat (baca : Perbedaan Kura-Kura, Penyu, dan Bulus). Nama latin reptil ini adalah Carettochelys insculpta Ramsay, 1886. Mempunyai beberapa nama sinonim seperti Carettochelys canni Artner, 2003; Carettochelys insculpta Wells, 2002; Carettochelys insculptus Ramsay, 1886. Dalam bahasa Inggris, reptil ini sibeut sebagai Pig-nosed Turtle, Fly River Turtle, New Guinea Plateless Turtle, Pig-nose Turtle, atau Pitted-shell Turtle.

Ciri fisik Labi-labi Moncong Babi mudah dikenali melalui bentuk hidup yang menyerupai hidup babi. Dari bentuk khas hidungnya tersebut, nama ‘moncong babi’ dan ‘pig nose’ melekat pada nama bulus ini. Panjang tubuhnya antara 46-70 cm dengan berat rata-rata 22,5 kg. Karapasnya, seperti umumnya jenis bulus lainnya, tidak keras dan lebih menyerupai kulit tebal. Tekstur karapas (tempurung) kasar, dengan warna bervariasi mulai coklat hingga abu-abu gelap. Sedangkan plastron (bagian bawah tubuh, perut) berwarna krem. Bagian kaki berwarna abu-abu gelap. Bentuk kaki menyerupai sirip dengan masing-masing meiliki dua cakar yang kuat. Labi-labi Moncong Babi memiliki rahang yang kuat dan ekor pendek. Ukuran jantan umumnya lebih kecil dibanding betina, namun memiliki ekor yang lebih panjang dan tebal.

Labi-labi Moncong Babi, sebagaimana jenis bulus lainnya, lebih banyak menghabiskan waktunya di air. Bahkan jarang ditemui naik ke daratan. Mendiami air tawar dan muara air. Dapat ditemukan di daerah pantai berpasir atau di hamparan rumput rawa di sungai, anak sungai, danau, air payau, dan mata air panas.

Merupakan hewan omnivora yang memakan buah, daun, moluska, krustasea, hingga serangga. Mencapai usia matang (dewasa) saat berusia 18 tahun (betina) dan 16 tahun (jantan). Umur di habitat asli tidak diketahui namun yang di penangkaran mampu hidup hingga berusia 38 tahun. Masa berbiak Labi-labi Moncong Babi pada akhir musim kemarau.
Reptil dengan nama latin Carettochelys insculpta ini merupakan hewan asli Indonesia. Daerah sebarannya terbatas di Papua bagian selatan mulai dari Timika, Asmat, Mappi, Boven Digul, Yahukimo, hingga sebagian kecil wilayah Merauke. Selain itu dijumpai juga di sebagian Papua Nugini bagian selatan dan Australia bagian utara.
Labi-labi Moncong Babi (Pig-nosed Turtle) menjadi salah satu reptil langka dan terancam kelestariannya di Indonesia. Jumlah populasi pastinya tidak diketahui, namun diperkirakan mengalami penurunan populasi yang drastis. Ancaman terhadap utama terhadap kelestarian reptil ini adalah perburuan liar untuk diperdagangkan baik sebagai hewan peliharaan ataupun dikonsumsi daging dan telurnya. Jenis bulus ini merupakan salah satu kura-kura yang paling banyak dieksploitasi dan diselundupkan ke luar negeri. Selain itu juga terancaman akibat dari kerusakan habitat.
Padahal Labi-labi Moncong Babi (Carettochelys insculpta) merupakan salah satu hewan langka dan dilindungi di Indonesia. Daftar Merah IUCN memasukkan spesies ini sebagai Vulnerable (Rentan). CITES pun mendaftarnya dalam daftar Appendix II yang artinya hanya boleh diperdagangkan secara internasional dengan pengawasan khusus dan ketat. Sedangkan di Indonesia, Labi-labi Moncong Babi menjadi salah satu hewan yang dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999 dan UU Nomor 1990.
Dengan statusnya yang dilindungi, seharusnya perburuan liar Labi-labi Moncong Babi (Carettochelys insculpta) tidak diperbolehkan. Termasuk memperjualbelikan (perdagangan) dan memelihara kura-kura air tawar ini yang diambil dari alam liar. Perdagangan hanya bisa dilakukan pada individu yang dihasilkan dari penangkaran resmi. Sehingga bagi pemelihara kura-kura bermoncong babi ini harus memastikan bahwa reptil yang dipeliharanya betul-betul dihasilkan dari penangkaran dan bukannya ditangkap dari alam liar, tentunya dengan dibuktikan dokumen-dokumen yang sah.

SPINY SOFTSHELL (BULUS/LABI-LABI)

Bagi Sobat yang ingin menangkarkan bulus agar berhasil maka kita perlu mengetahui kebiasaan hidup mereka dialam bebas sehingga dengan demikian kita bisa memperlakukannya mereka layaknya hidupdalam alam liar. Tentu dengan harapan demikian labi-labi yang kita budidayakan akan beranak pinak dengan baik
Bulus atau juga sering disebut dengan nama labi-labi yang termasuk hewan reptil ini baik yang baru menetas maupun labi-labi yang sudah dewasa bernapas dengan paru-paru (pulmo).
Selain itu kebiasaan bulus yang perlu kita ketahui antara lain:

Kebiasaan makan
Labi-labi memakan ikan dan udang kecil di alam. Di kolam, labi-labi bisa diberikan pakan berupa cincangan ikan, pelet ikan hias atau diberi cincangan isi hewan ternak yang sudah disembelih.


Kebiasaan berkembang biak
Di alam, labi-labi umumnya berpijah antara Juli—Desember. Labi-labi berkembang biak dengan cara bertelur (ovivar). Setiap kali labi-labi bertelur mencapai 10-30 butir. Telur berwarna krem dengan diameter antara 2-3 cm. Telur-telur yang dikeluarkan ditimbun dalam tanah berpasir selama lebih kurang 45-50 hari pada suhu 25-30 derajat C.